Ini adalah puisi karya Remy Soetansyah yang dinyanyikan oleh Iwan Fals. Puisi ini dinyanyikan dalam acara Musikalisasi Puisi Karya Remy Soetansyah di Museum Arsip Nasional Jakarta, 14 Agustus 2009.
Kata mas Remy, "Ini yang dibawakan Iwan dan semua orang standing applaus untuk Iwan. Sementara waktu dia bawain ini, semua diam menahan nafas. Iwan memang orator yang magis...!"
Surat Kepada Mabuk
Puisi karya: Remy Soetansyah
Dinyanyikan oleh: Iwan Fals
Musikalisasi Puisi Remy Soetansyah
Museum Arsip Nasional Jakarta, 14 Agustus 2009
Cinta, aku simpan mabukmu dalam botol
Dan aku layarkan ke samudra hati
Aku mengerti bahwa kau kecewa
Setelah kau reguk bergalon air mata
Atas cinta yang sungsang ini
Atas hati yang terlantar
Atas waktu yang terbuang percuma
Atas nama cinta juga
Kita tinggalkan kebersamaan yang semu ini
Sebab sebenarnyalah
Kita telah punya penjara masing-masing
Cinta, hidup memang membuat kita rajin tak berdaya
Atas takdir, masa lalu yang terlambat datang
Selalu kita sesali pilihan-pilihan hidup
Dan kita harus setia mereguknya
Cinta, kau hanya mabuk sesaat
Hanya memerlukan angin semilir, bertiup di degupmu
Dan kembali tersadar
Bahwa hidup harus dilanjutkan
Selama Tuhan mengijinkan
Aku rasa
Akupun begitu
Hanya perlu sedikit udara sejuk
Cinta, marilah kita terus mabuk
Karena mabuk dan tak mabuk
Aku tak merasakan bedanya
Salam mabuk
Dari seseorang yang hampir tak mampu hidup tanpa mabukmu
foto: http://soetansyah.multiply.com
Showing posts with label * Puisi. Show all posts
Showing posts with label * Puisi. Show all posts
Labels:
- Lirik Lagu Belum/Tidak Beredar,
* Puisi
Surat Kepada Mabuk
Posted by
cangkruk mania
0
comments
Pulanglah Pak
Hanya dengan denting gitar akustik dan suara serak Iwan Fals, puisi karya Fitri Nganti Wani -anak Widji Tukul- menjadi sebuah lagu yang sangat menyayat perasaan. (Widji Tukul adalah seorang korban penculikan pada 1998 yang sampai sekarang tidak diketahui nasibnya).
Iwan Fals menyanyikan puisi ini dengan penuh penjiwaan pada acara peluncuran buku "Selepas Bapakku Pergi" karya Fitri Nganti Wani, di Graha Bakti Budaya, TIM Cikini, Jakarta, 16 Juni 2009.
Bagi saya, gaya bernyanyi Iwan Fals dalam lagu ini sedikit mengobati kerinduan pada sosok Iwan yang liar, garang namun tetap bersahaja. Nada-nada sederhana dalam lagu ini mengingatkan pada album akustik Iwan Fals di tahun 90-an. Dan wajar bila beberapa kawan setelah mendengarkan lagu ini mengatakan, "Inilah Iwan Fals sebenarnya..!". (sb)
Dibawah ini adalah lirik dan rekaman video penampilan Iwan Fals saat menyanyikan lagu ini.
Pulanglah Pak
Lirik: Fitri Nganti Wani
Lagu: Iwan Fals
Pulanglah, Pak
Kami sekeluarga menunggumu, Pak
Kawan-kawanmu juga menunggumu, Pak
Pulanglah, Pak
Apakah kamu tidak tahu
Indonesia pecah, Pak?
Pipa-pipa menancap ditubuh pertiwi kita
Asap-asap dari pabrik-pabrik mengotori pertiwi kita, Pak
Limbah-limbah membuat sungai-sungai dan kali-kali tercemar
Kami terpaksa tutup hidung, Pak
Pertiwi kita menangis
Pertiwi kita butuh kamu, Pak
Oooh...
Pulanglah, Pak
Apakah kau tidak ingat aku lagi?
Aku anakmu, Pak
Aku, adik, ibu dan semua orang merindukanmu, Pak
Apakah hanya dengan doa-doa saja
Aku harus menunggu?
Penguasa...! Kembalikan bapakku...!
PENGUASA...! KEMBALIKAN BAPAKKU...!
---------------
Pulanglah Pak - Lirik:Fitri Nganti Wani - Lagu:Iwan Fals
video ini diupload di Youtube oleh used id : amang1984 pada 17 Juni 2009
Link asal: http://www.youtube.com/watch?v=rJ52WxzjovU
Iwan Fals menyanyikan puisi ini dengan penuh penjiwaan pada acara peluncuran buku "Selepas Bapakku Pergi" karya Fitri Nganti Wani, di Graha Bakti Budaya, TIM Cikini, Jakarta, 16 Juni 2009.
Bagi saya, gaya bernyanyi Iwan Fals dalam lagu ini sedikit mengobati kerinduan pada sosok Iwan yang liar, garang namun tetap bersahaja. Nada-nada sederhana dalam lagu ini mengingatkan pada album akustik Iwan Fals di tahun 90-an. Dan wajar bila beberapa kawan setelah mendengarkan lagu ini mengatakan, "Inilah Iwan Fals sebenarnya..!". (sb)
Dibawah ini adalah lirik dan rekaman video penampilan Iwan Fals saat menyanyikan lagu ini.
Pulanglah Pak
Lirik: Fitri Nganti Wani
Lagu: Iwan Fals
Pulanglah, Pak
Kami sekeluarga menunggumu, Pak
Kawan-kawanmu juga menunggumu, Pak
Pulanglah, Pak
Apakah kamu tidak tahu
Indonesia pecah, Pak?
Pipa-pipa menancap ditubuh pertiwi kita
Asap-asap dari pabrik-pabrik mengotori pertiwi kita, Pak
Limbah-limbah membuat sungai-sungai dan kali-kali tercemar
Kami terpaksa tutup hidung, Pak
Pertiwi kita menangis
Pertiwi kita butuh kamu, Pak
Oooh...
Pulanglah, Pak
Apakah kau tidak ingat aku lagi?
Aku anakmu, Pak
Aku, adik, ibu dan semua orang merindukanmu, Pak
Apakah hanya dengan doa-doa saja
Aku harus menunggu?
Penguasa...! Kembalikan bapakku...!
PENGUASA...! KEMBALIKAN BAPAKKU...!
---------------
Pulanglah Pak - Lirik:Fitri Nganti Wani - Lagu:Iwan Fals
video ini diupload di Youtube oleh used id : amang1984 pada 17 Juni 2009
Link asal: http://www.youtube.com/watch?v=rJ52WxzjovU
Posted by
cangkruk mania
0
comments
Labels:
- Pesan Dan Doa,
* Puisi
Tunjuki Kami Jalan (Taufik Ismail)
Puisi ini karya penyair kondang Taufik Ismail. Dibacakan beliau sendiri pada saat acara Special Iwan Fals, Jelang Pemilu Indonesia -Satu Untuk Negeri- Live di TV One pada tanggal 8 April 2009, sehari sebelum Pemilihan Umum legislatif. Puisi yang sangat ‘berani’ ini dibacakan oleh Taufik Ismail dengan tegas dan lantang.Tunjuki Kami Jalan
Taufik Ismail
Dengan hati yang berdebar-debar
Sebuah bangsa akan memasuki lagi sebuah gerbang yang besar
Gerbang pelaksanaan ide yang bernama demokrasi untuk ke sepuluh kali
1,6 juta orang akan memperebutkan 18 ribu lebih kursi
Mewakili seluruh strata perwakilan di seantero negeri
Untuk itu mereka menghabiskan lebih dari 100 triliun rupiahnya secara pribadi
Ini demokrasi terlampau mahal
Demokrasi yang sangat mahal bagi bangsa yang miskin
Bangsa yang berhutang 1.500 triliun rupiahnya
Di sebuah negeri yang 40 juta warganya menganggur tidak mendapatkan kesempatan kerja
Di negeri yang petani miskinnya berpuluh tahun mensubsidi harga beras orang kota
Bangsa yang terhadap keadilan seperti hampir kehilangan harap
Di negeri yang hukum sukar ditegakkan karena tiangnya penuh rayap
Bangsa yang sakit kronis karena dicengkram epidemi korupsi
Di negeri yang malingnya makin banyak dengan datangnya reformasi
Bangsa yang anak-anaknya 6 juta dibelenggu narkoba
Di negeri yang anak-anaknya tidak mendapat bangku sekolah 10 juta
Kemudian bangsa ini makin permisif, segala boleh
Syahwat yang semakin gawat di negri yang kini
Negeri kita adalah surga pornografi yang paling murah didunia
Kemudian bangsa yang bertanya-tanya macam apa ini merdeka?
Dinegri yang seperti dijajah ini
Karena apa? Karena di dikte !
Karena di dikte…! di dikte…!
Oleh kemauan negara adi kuasa
Ada sebagian dari bangsa kita yang nilai-nilai luhurnya berantakan
Ada sebagian dari bangsa kita yang dimatanya tidak jelas lagi batas halal dan haram
Ibarat membentang benang hitam di hutan kelam jam satu malam
Banyak persoalan… banyak persoalan…
Maa dzaa aroodallahu bihadza matsalaa
("Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?") (QS 2:26)
Ini luar biasa ruwet dan sulitnya problema bangsa
Tapi saudaraku… saudaraku… saudaraku
Jangan putus asa
Bersama mari kita selesaikan raksasa permasalahan
Membasmi kebodohan
Memberantas kemiskinan
Menghabisi perilaku koruptif
Mencegah kekerasan dan anarki
Menegakkan… menegakkan hukum dan keadilan
Robbana… robbana…
Semoga kita tetap diberiNya kesempatan dan keampunan
Kemudian… kemudian…
Semoga masih ada cahaya di atas sana
Untuk bangsa kita…
Posted by
cangkruk mania
0
comments
Labels:
- Pesan Dan Doa,
* Puisi
Beri Kami Kemampuan Membaca Tanda Tanda (Taufik Ismail)
Puisi berikut ini ditulis oleh penyair ternama Taufik Ismail. Puisi ini dibacakan dengan lantang dan tegas ditengah Iwan Fals, Krisyanto (ex-vocalis band Jamrud) dan Candil (ex-vocalis band Seurieus) bersama-sama menyanyikan lagu Katakan Kita Rasakan dalam acara live ‘Satu Untuk Negeri’ di TV One, 8 April 2009. Acara live konser ini sehari sebelum pemilihan umum legislatif. Ini adalah puisi yang menceritakan tragedi jebolnya tanggul Situ Gintung di Cirendeu, Ciputat, Tangerang pada 27 Maret 2009.Beri Kami Kemampuan Membaca Tanda Tanda
Taufik Ismail
Dapatkah kita bayangkan dalam masa lima menit
Harta kita hanyut ketika bendungan Situ Gintung jebol
Dapatkan kita bayangkan dalam waktu setengah jam
Seluruh pemukiman diserbu air dan hancur berantakan
Dapatkan kita bayangkan dalam tiga jam masanya
Seratus orang tewas, seratus hilang jauh hanyutnya
Dapatkah kita bayangkan dalam waktu setengah hari disungai
Lumpur, potongan kayu, bangkai kendaraan bertumpuk tinggi
Ada sesuatu yang rasanya mulai lepas dari tangan
Dan meluncur lewat sela sela jari kita
Ada sesuatu yang sejak dulu tak begitu jelas
Dan sebagai pertanyaan kini bersuara begitu keras
Air mata mengantarkan sedu sedan
Sedu sedan mengantarkan tangisan
Tangisan mengantarkan jeritan
Jeritan anak kehilangan ayah
Jeritan ayah kehilangan anak
Jeritan istri kehilangan suami
Jeritan suami kehilangan istri
Jeritan keluarga kehilangan tiga, empat, lima, enam anggotanya
Maa dzaa aroodallahu bi hadza matsalaa
("Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?") (QS 2:26) -red
Apa gerangan yang diKau kehendaki dari ini umpama
Bilakah gerangan kami mampu membaca tanda-tanda
Tapi.. tapi kita tidak semata-mata tenggelam dalam ratapan
Kita tidak hanya tenggelam dalam kesedihan
Masyarakat ini bangkit dan berbuat menyampaikan pertolongan
Untuk saudara sebangsa yang luluh dalam penderitaan
Apa yang dapat kami sumbangkan kami sumbangkan
Apa yang dapat kami lakukan kami lakukan
Apa yang dapat kami doakan kami doakan
Robbana… luar biasa salah urus bangsa kami !
Bimbing kami menyelesaikan urusan kami
Luar biasa… bertumpuk dosa kolektif kami
Kurniai kami ampunan
Kurniai kami kemampuan membaca tanda tanda
Amin…
Posted by
cangkruk mania
0
comments
Labels:
- Lirik Lagu Belum/Tidak Beredar,
* Puisi
15 Juta
15 Juta
( Iwan Fals )
Puisi dari Iwan Fals yang tidak dikomersilkan, dibacakan setelah menyanyikan lagu berjudul Lagu Pegangan. Puisi ini dibacakan di UGM, Mei 1998
15 juta orang menganggur
Puluhan juta lagi orang terancam kelaparan
Hutang menumpuk belum bisa dibayar
Orang sudah mulai memakan makanan binatang
Kelakuan orang sudah mirip binatang
Tak ada lagi jaminan keamanan
Copet berkeliaran digedung pengadilan
Dijalanan terjadi kekacauan
Dirumah-rumah orang ketakutan
Sikat lawan, sikat kawan urusan belakangan di belantar
Seniman, wartawan dan dermawan
Suka tak suka menjadi orang tahanan
Terpenjara oleh kenyataan... sialan...
15 juta orang menganggur
Puluhan juta orang lagi terancam kelaparan
Hutang menumpuk belum bisa dibayar
Orang sudah mulai memakan makanan binatang
Kelakuan orang sudah mirip dengan binatang
Tak ada lagi jaminan keamanan
Copet berkeliaran digedung pengadilan
Dijalanan terjadi kekacauan
Urusan belakangan...
makasih buat Ricky
( Iwan Fals )
Puisi dari Iwan Fals yang tidak dikomersilkan, dibacakan setelah menyanyikan lagu berjudul Lagu Pegangan. Puisi ini dibacakan di UGM, Mei 1998
15 juta orang menganggur
Puluhan juta lagi orang terancam kelaparan
Hutang menumpuk belum bisa dibayar
Orang sudah mulai memakan makanan binatang
Kelakuan orang sudah mirip binatang
Tak ada lagi jaminan keamanan
Copet berkeliaran digedung pengadilan
Dijalanan terjadi kekacauan
Dirumah-rumah orang ketakutan
Sikat lawan, sikat kawan urusan belakangan di belantar
Seniman, wartawan dan dermawan
Suka tak suka menjadi orang tahanan
Terpenjara oleh kenyataan... sialan...
15 juta orang menganggur
Puluhan juta orang lagi terancam kelaparan
Hutang menumpuk belum bisa dibayar
Orang sudah mulai memakan makanan binatang
Kelakuan orang sudah mirip dengan binatang
Tak ada lagi jaminan keamanan
Copet berkeliaran digedung pengadilan
Dijalanan terjadi kekacauan
Urusan belakangan...
makasih buat Ricky
Posted by
cangkruk mania
0
comments
Labels:
* Puisi,
1991 - Swami II
Pantun Koruptor
Pantun KoruptorWS Rendra
(Dibacakan WS Rendra ditengah Iwan Fals dan kawan-kawan menyanyikan lagu HIO dalam konser Merdeka yang berlangsung di Leuwinanggung 16 Agustus 2008)
Kalau ada sumur di ladang
Jangan diintip gadis yang mandi
Koruptor akalnya panjang
Jaksa dan hakim diajak kompromi
Berburu ke padang datar
Mendapat janda belang di kaki
Koruptor sakit diijinkan pesiar
Uang rakyat dibawa lari
Berakit rakit ke hulu
Berenangnya kapan kapan
Maling kecil sakit melulu
Maling besar dimuliakan
Ur… Ur… Ur… Ur… Bada Ur…
Selendang sutra jingga
Aturan negara ngalor ngidul
Lantaran wakil rakyat korupsi juga
Hio… Hio… Hio… Hio…
Kura kura dalam perahu
Buaya darat didalam sedan
Wakil rakyat jangan ditiru
Korupsinya edan edanan
Si tukang riba disebut lintah darat
Si hidung belang disebut buaya darat
Pedagang banyak hutang itulah konglomerat
Mereka yang berhutang yang bayar lha kok rakyat?
Binatang bego itu kura kura
Binatang lamban juga kura kura
BBM naik rakyat sengsara
Uang bea cukai ditilep juga
Aduh aduh cantiknya si janda kembang
Sedang menyanyi si Jali Jali
Hujan emas di rantau orang
Hujan babu di negeri sendiri
Hio… Hio… Hio…
Ale… Ale… Ale…
Bakso… Bakso… Bakso…
Onde… Onde… Onde…
Mikul duwur mendem jero
Itu apa artinye?
Artinye…
Kalau ente jadi presiden
Berdosa boleh aje…..
Posted by
cangkruk mania
0
comments
BBM Naik Tinggi
BBM Naik Tinggi
Susu Tak Terbeli
Orang Pintar Tarik Subsidi
Mungkin Bayi Kurang Gizi
(Galang Rambu Anarki - Album Opini)
Anehnya...
Bukankah negeri ini kaya raya
Namun kemana semua kekayaan negeri ini?
Hanya dinikmati segelintir orang
Dikuasai bangsa asing
Dan rakyat disini hanya mendapat sisa-sisanya
Yang ampasnya pun masih tega dicolong
Pembuat kebijakan bekerja separuh hati
Pelaksana kebijakan tidak berani tegas
Mereka dibungkam dengan lembaran uang
Untuk berpidato menjanjikan surga
Kita berdiri diatas gunung emas
Tetapi tak pernah bisa menikmatinya
Kita berteriak lantang menyambut kilauan pelor
Dan mereka disana cukup mengucapkan...
Maaf, BBM terpaksa naik
Harta kekayaan tanah ini sudah milik bangsa lain
Selamat bertahan hidup
Semoga selamat sampai ditujuan (sb)
Susu Tak Terbeli
Orang Pintar Tarik Subsidi
Mungkin Bayi Kurang Gizi
(Galang Rambu Anarki - Album Opini)
Anehnya...
Bukankah negeri ini kaya raya
Namun kemana semua kekayaan negeri ini?
Hanya dinikmati segelintir orang
Dikuasai bangsa asing
Dan rakyat disini hanya mendapat sisa-sisanya
Yang ampasnya pun masih tega dicolong
Pembuat kebijakan bekerja separuh hati
Pelaksana kebijakan tidak berani tegas
Mereka dibungkam dengan lembaran uang
Untuk berpidato menjanjikan surga
Kita berdiri diatas gunung emas
Tetapi tak pernah bisa menikmatinya
Kita berteriak lantang menyambut kilauan pelor
Dan mereka disana cukup mengucapkan...
Maaf, BBM terpaksa naik
Harta kekayaan tanah ini sudah milik bangsa lain
Selamat bertahan hidup
Semoga selamat sampai ditujuan (sb)
Posted by
cangkruk mania
0
comments
Subscribe to:
Posts (Atom)

