Showing posts with label - Lirik Lagu Belum/Tidak Beredar. Show all posts
Showing posts with label - Lirik Lagu Belum/Tidak Beredar. Show all posts


Bootleg Iwan Fals

BOOTLEG IWAN FALS; Tahun: 1996; NO ALBUM

Dapat rekaman ini sekitar tahun 2000. Satu kaset berisi 10 lagu yang benar-benar asing ditelinga saya. Lagu didalamnya ajaib, semua musik yang sudah diprogram lewat komputer. Pokoknya beda banget dengan lagu Iwan Fals di era 80-90an.

Musik yang kadang beradu saling bersahutan dengan vokal. Kadang musik seperti bunyi 'kresek' (kantong -red) plastik. Menurut saya musik dalam album ini memang sudah diprogram lewat komputer dan dimainkan atau direkam secara digital. Yuk simak lagu-lagunya.


Catatan: semua lagu tidak ada judulnya, saya kasih judul atas dasar kata yang paling sering diucapkan aja.

1. KAPAL BAU PESING
Cerita tentang sebuah kapal yang bau pesing didalamnya dan cerita seorang nelayan yang sedang memancing tapi belum dapat ikan. Musik diawali dengan bunyi suling dan kendang yang dominan dan akhir musik dihiasi dengan berbagai efek. Mungkin lagu ini menggambarkan kondisi negara yang saat itu memang bau.[5:22]

2. RESIKO
Tentang kehidupan orang-orang ada yang bekerja, melamun, tertawa, menangis dan kehidupan terus berjalan. Lirik yang menggambarkan sebuah resiko bersikap jujur dibilang takabur, berani dibilang goblok.[3:07]

3. AKU TAK MENGERTI (ada juga yang memberi judul: MAKNA HIDUP INI -red)
Lagu yang bercerita tentang makna hidup ini, sesuatu yang datang pasti akan pergi juga. Musiknya cukup kalem walau efek-efek komputernya masih terdengar nyata.[4:48]

4. GELORA TERTEKAN
Lagu berisi seseorang yang jatuh hati tapi selalu ditekan, benarkah ia jatuh hati. Jika bertemu selalu menghindar seperti orang yang berdosa. Musik pada lagu ini ditambah instrumen keyboard yang cukup dominan.[3:55]

5. JALAN MASIH PANJANG
Lagu bercerita kondisi Negara waktu itu dimana kata Iwan Fals, "Garuda nangkring di pelangi". Tidak tahu maksudnya apa.[4:43]

6. BAPAK TENTARA
Lagu ini akhirnya dimuat dialbum tahun 2004 dari Iwan Fals bertitel Manusia ½ Dewa. Pada album itu lagu ini berjudul PARA TENTARA. Durasi lagu pada rekaman ini cukup lama sekitar 9 menit-an. Musik yang bising bertabrakan dengan gitar dan vocal, looping drum, suara distorsi dari keyboard yang terkadang seperti suara trompet, suara bom dan suara gemuruh... kelam.[9:43]

7. TAK KEKAL (ada juga yang menyebut: BUNGA KAYU DI BERANDA -red)
Lirik yang bercerita sesuatu didunia tak ada yang abadi. Matahari diganti bulan, pagi diganti malam dan begitu seterusnya. Musiknya cukup kalem hanya gitar, drum looping, keyboard dan perkusi digital.[6:02]

8. KATA KATA
Kata kata itu harus dipertangungjawabkan, karena banyaknya janji-janji yang bertebaran.[3:16}

9. KELUAR MALAM (atau: PUKUL DUA MALAM -red)
Musik dengan irama country khas Iwan Fals ini sangat enak untuk bergoyang. Lagu ini berkisah tentang seseorang yang kehabisan rokok lalu dia keluar untuk membeli ke tukang rokok, dan rokok yang dibeli adalah merk luar negeri. Disini musiknya ditambah dengan tiupan harmonika.[4:33]

10. ASIK NGGAK ASIK
Lagu inipun ada dialbum Iwan Fals tahun 2004 berjudul Manusia ½ Dewa, album dengan versi akustik. Tapi direkaman ini, wahhhh... ini rekaman yang sangat bagus penuh spontanitas. Lepas dengan backsound suara Iwan Fals yang sahut-sahutan (menggunakan efek suara), kadang ketawa, bergumam dan bermain harmonika. Musik didominasi dengan suara kendang program dan melodi gitar.[6:02]

Andaikata rekaman ini dirilis RESMI wahh... mungkin ini album yang paling dicari-cari dan dinanti oleh penggemar fanatik seorang Iwan Fals. Gimana FALCON?... (Falcon Records adalah label Iwan Fals saat ini menggantikan Musica -red)

Sori kalo reviewnya kurang berkenan.., dOeL


---------------------------------

iwanfalsmania.blogspot.com mengucapkan Terima Kasih kepada mister jamesdoel untuk artikel ini :D... sorry masih males fotoin patung Gombloh.. hehe...

---------------------------------

Definisi BOOTLEG:
Bootleg adalah rekaman artis musik yang tidak dirilis secara resmi lewat suatu perusahaan rekaman. Biasanya rekaman ini diambil dari pertunjukan konser dengan sebuah alat perekam ringkas yang kemudian diolah dan ditransfer ke bentuk CD. Bootleg juga bisa berasal dari pita rekaman yang dicuri dari studio atau demo yang seharusnya tidak disebarluaskan. Beberapa band seperti Phish dan Grateful Dead memperbolehkan praktik bootleg dengan syarat rekaman itu tidak dijual, melainkan digandakan secara cuma-cuma. (source: wikipedia)




Pondokku

Ini adalah lirik lagu baru Iwan Fals. Lagu ini pertama kali dibawakan oleh Iwan Fals saat konser perjalanan spiritual Iwan Fals bersama Ki Ageng Ganjur ke Pesantren, 07 Agustus 2010 di Pondok Pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya. Lagu ini belum dialbumkan.






Pondokku
Iwan Fals (2010)


Pertama merasakan hidup yang sesungguhnya
Oh pondokku kau ajari aku yang nyata
Namamu terus terkenang
Diantara nama-nama lainnya

Emas terpendam di keseharianmu
Senandung doa-doa terus tergenang
Arahkan hati dan akalku kepadanya
Lapangnya dada mengenangmu rumah ilmu rumah kebaikan

Makanya aku merindukan itu
Aku merindukan suasana itu
Lihatlah betapa bercahayanya wajahnya
Sinarnya menerangi jalanku

Pondokku...
Pondokku...
Pondokku...
Pondokku...


*image karya Agam


Negeri Kaya

Lagu ini adalah hasil akhir dari perjalanan dan perenungan Iwan Fals ke beberapa kota dalam rangkaian Road Show 'KESEIMBANGAN - Oi, Menanam bersama Iwan Fals & Band' di 6 kota Pulau Jawa (28 Juni - 12 Juli 2010). Lirik yang inspirasinya datang saat Iwan Fals berziarah ke makam Bung Karno di Blitar. Ini adalah salah satu lagu terbaru Iwan Fals yang belum ada di rekaman.




 

Negeri Kaya
Iwan Fals (2010)


Negeri ini memang kaya
Kaya orangnya, kaya binatangnya
Negeri ini memang kaya
Kaya alamnya, kaya budayanya
Negeri ini memang kaya
Kaya pejabatnya, kaya penjahatnya
Negeri ini memang kaya
Kaya idenya, kaya sejarahnya
Negeri ini memang kaya

Hei, Bung Karno...
Aku bersimpuh di makammu
Hei, Bung Karno...
Nyenyakkah tidur abadimu
Kudatang mengganggu istirahatmu

Negeri ini memang kaya
Kaya rakyatnya yang menangis diujung parang
Kaya harapan, kaya agamanya

Merah putih termangu
Terkulai berdebu dipojok gedung bekas penjajah
Pancasila meronta
Garuda tertatih melayang pergi
Negeri ini memang kaya

Hei, Bung Karno...
Aku bersimpuh di makammu
Sebarkan kembang ibu yang letih
Hei, Bung Karno...
Nyeyakkah tidur abadimu
Inikah nyanyian kecewa
Hei, Bung Karno...
Aku bersimpuh di makammu
Akankah kisahmu menjadi api
Hei, Bung Karno...
Nyenyakkah tidur abadimu
Dingin yang aneh menyiksa negeri

Merah putih termangu
Terkulai berdebu dipojok gedung bekas penjajah
Pancasila meronta
Garuda tertatih melayang pergi
Negeri ini memang kaya

Hei, Bung Karno...
Aku bersimpuh di makammu
Maafkanlah aku yang cengeng
Hei, Bung Karno...
Nyeyakkah tidur abadimu
Tularkan keberanianmu itu
Hei, Bung Karno...
Aku bersimpuh di makammu
Suaramu menggelegar di kalbu
Hei, Bung Karno...
Nyeyakkah tidur abadimu
Biarlah mimpi itu kan nyata

Negeri ini memang kaya
Kaya penguasanya yang miskin hatinya
Kaya marahnya Indonesia Raya
Negeri ini memang kaya



Surat Kepada Mabuk

Ini adalah puisi karya Remy Soetansyah yang dinyanyikan oleh Iwan Fals. Puisi ini dinyanyikan dalam acara Musikalisasi Puisi Karya Remy Soetansyah di Museum Arsip Nasional Jakarta, 14 Agustus 2009.

Kata mas Remy, "Ini yang dibawakan Iwan dan semua orang standing applaus untuk Iwan. Sementara waktu dia bawain ini, semua diam menahan nafas. Iwan memang orator yang magis...!"


Surat Kepada Mabuk
Puisi karya: Remy Soetansyah
Dinyanyikan oleh: Iwan Fals
Musikalisasi Puisi Remy Soetansyah
Museum Arsip Nasional Jakarta, 14 Agustus 2009


Cinta, aku simpan mabukmu dalam botol
Dan aku layarkan ke samudra hati
Aku mengerti bahwa kau kecewa
Setelah kau reguk bergalon air mata

Atas cinta yang sungsang ini
Atas hati yang terlantar
Atas waktu yang terbuang percuma
Atas nama cinta juga
Kita tinggalkan kebersamaan yang semu ini

Sebab sebenarnyalah
Kita telah punya penjara masing-masing

Cinta, hidup memang membuat kita rajin tak berdaya
Atas takdir, masa lalu yang terlambat datang
Selalu kita sesali pilihan-pilihan hidup
Dan kita harus setia mereguknya

Cinta, kau hanya mabuk sesaat
Hanya memerlukan angin semilir, bertiup di degupmu
Dan kembali tersadar
Bahwa hidup harus dilanjutkan
Selama Tuhan mengijinkan

Aku rasa
Akupun begitu
Hanya perlu sedikit udara sejuk

Cinta, marilah kita terus mabuk
Karena mabuk dan tak mabuk
Aku tak merasakan bedanya

Salam mabuk
Dari seseorang yang hampir tak mampu hidup tanpa mabukmu

foto: http://soetansyah.multiply.com


Genangan Hujan

Salah satu lirik lagu Iwan Fals yang tidak beredar. Ini adalah salah satu lagu uncommercial Iwan Fals yang sangat saya sukai. Perpaduan yang serasi antara irama pop santai dan cara bernyanyi khas Iwan Fals di era 90-an dengan suara yang mulai berat, serta lirik yang sangat puitis namun tidak cengeng. Liriknya memang Iwan Fals banget. Sayang sekali lagu ini tidak dirilis dalam format jualan, entah kenapa.(sb)


Genangan Hujan
(Iwan Fals)

Sampai dimana aku tak tahu
Yang aku tahu terus melangkah menerjang bosan
Banyak cerita yang telah kita temui
Pasti berarti walau kadang tak peduli

Berkaca pada genangan hujan
Semerbak harum bunga-bunga liar
Senda gurau binatang malam
Mengantarku ke pembaringan

Bila dingin mengganggu kuhampiri kamu
Bila rindu bertalu aku disampingmu
Kuselimuti dengan semangatku
Lalu kukisahkan mimpi yang sederhana

Telah kuminta kau untuk menemani
Perjalanan ini sudah terjadi
Jangan berpikir kapan akan berakhir
Aku bergelora kurasa kaupun bahagia

Berkaca pada genangan hujan
Semerbak harum bunga-bunga liar
Senda gurau binatang malam
Mengantarku ke pembaringan




Rumah Cinta Hijau

Satu lagi lirik lagu Iwan Fals yang tidak beredar, tidak jelas sejarahnya namun diperkirakan direkam pada tahun 90-an. Lagu ini liriknya bercerita tentang Ibu. Iwan Fals cukup banyak membuat lagu tentang Ibu baik yang beredar maupun tidak. Dan saya akui rangkaian kata dalam lirik-lirik bertema cinta kepada Ibu karya Iwan Fals begitu indah. Lirik dibawah ini meskipun hanya berupa tulisan namun bisa menyentuh perasaan saya saat membacanya.
Ibu... maafkan aku anakmu... (sb)


Rumah Cinta Hijau
(Iwan Fals)

Ibu… bayi yang kau susui dulu
Kini berjalan didalam badai
Mencari rumah cinta hijau
Yang damainya damai sejati

Ibu… anak yang kau sayangi dulu
Kini rindukan kawan abadi
Karena rumah cinta hijau
Tak bersua dalam sehari

Begitu banyak orang yang kukenal
Namun semua tak seperti dirimu
Yang senyumnya sampai kehati
Yang nuraninya tiada terbeli

Ibu… aku ingin lihat senyummu
Dirumah cinta hijau
Dimana rindu selalu pasti
Dimana cinta selalu berarti

thanks to: Jully Morrison



Pulanglah Pak

Hanya dengan denting gitar akustik dan suara serak Iwan Fals, puisi karya Fitri Nganti Wani -anak Widji Tukul- menjadi sebuah lagu yang sangat menyayat perasaan. (Widji Tukul adalah seorang korban penculikan pada 1998 yang sampai sekarang tidak diketahui nasibnya).

Iwan Fals menyanyikan puisi ini dengan penuh penjiwaan pada acara peluncuran buku "Selepas Bapakku Pergi" karya Fitri Nganti Wani, di Graha Bakti Budaya, TIM Cikini, Jakarta, 16 Juni 2009.

Bagi saya, gaya bernyanyi Iwan Fals dalam lagu ini sedikit mengobati kerinduan pada sosok Iwan yang liar, garang namun tetap bersahaja. Nada-nada sederhana dalam lagu ini mengingatkan pada album akustik Iwan Fals di tahun 90-an. Dan wajar bila beberapa kawan setelah mendengarkan lagu ini mengatakan, "Inilah Iwan Fals sebenarnya..!". (sb)

Dibawah ini adalah lirik dan rekaman video penampilan Iwan Fals saat menyanyikan lagu ini.

Pulanglah Pak
Lirik: Fitri Nganti Wani
Lagu: Iwan Fals


Pulanglah, Pak
Kami sekeluarga menunggumu, Pak
Kawan-kawanmu juga menunggumu, Pak

Pulanglah, Pak
Apakah kamu tidak tahu
Indonesia pecah, Pak?

Pipa-pipa menancap ditubuh pertiwi kita
Asap-asap dari pabrik-pabrik mengotori pertiwi kita, Pak
Limbah-limbah membuat sungai-sungai dan kali-kali tercemar
Kami terpaksa tutup hidung, Pak

Pertiwi kita menangis
Pertiwi kita butuh kamu, Pak
Oooh...

Pulanglah, Pak
Apakah kau tidak ingat aku lagi?
Aku anakmu, Pak
Aku, adik, ibu dan semua orang merindukanmu, Pak
Apakah hanya dengan doa-doa saja
Aku harus menunggu?

Penguasa...! Kembalikan bapakku...!
PENGUASA...! KEMBALIKAN BAPAKKU...!

---------------


Pulanglah Pak - Lirik:Fitri Nganti Wani - Lagu:Iwan Fals

video ini diupload di Youtube oleh used id : amang1984 pada 17 Juni 2009
Link asal: http://www.youtube.com/watch?v=rJ52WxzjovU


Gelora Tertekan

Ini adalah salah satu lagu Iwan Fals yang tidak beredar. Informasinya lagu ini direkam sekitar tahun 1996. Iwan Fals tidak hanya jago menulis lagu bertema kritik, namun dia juga hebat dalam tema percintaan seperti lirik dibawah ini. Coba baca dan renungi. Lagu-lagu cinta karya Iwan Fals memang bukan lagu cinta kacangan.(sb)

Gelora Tertekan
(Iwan Fals)

Dari jauh aku melihat dirimu
Curi pandang melempar panah asmara
Tak tau apakah sampai padamu
Aku malu sepertinya berdosa

Gelora coba kutekan
Berulang-ulang kutekan
Selalu aku bertanya
Cintakah ini adanya?

Sempat mata kita saling berpandangan
Juga sempat kita saling berjabat tangan
Tetap hati bergemuruh bak gelombang
Bila rindu memanggilmu sayang

Gelora coba kutekan
Berulang-ulang kutekan
Selalu aku bertanya
Cintakah ini adanya?

Semerbak bunga-bunga ditaman
Tak mampu buyarkan lamunan
Dirimu masih terus terbayang
Terbawa mimpi pagi menjelang

Mendekatlah wahai jelita yang malang
Aku ikhlas membuatmu bahagia
Tertawalah lepas jelita yang malang
Aku yakin aku tak berdaya

Gelora coba kutekan
Berulang-ulang kutekan
Selalu aku bertanya
Cintakah ini adanya?

Semerbak bunga-bunga ditaman
Tak mampu buyarkan lamunan
Dirimu masih terus terbayang
Terbawa mimpi pagi menjelang

Makasih ketikannya dOel



Kasbon

Salah satu lagu tidak beredar yang liriknya ditulis pada masa reformasi di tahun 1998 oleh penyair kondang yang juga salah satu personil Kantata Takwa, alm. WS.Rendra.

Kasbon

Lirik: WS.Rendra
Lagu: Iwan fals

Selembar kertas berisi angka-angka
Tapi tidak ada angka-angkanya
Itulah kasbon

Selembar kertas berisi angka-angka
Menempel didahi dari wajah yang begitu muram karena jauh dari kenyataan
Itulah kasbon

Selembar kertas yang dilipat jadi perahu kecil
Hanyut disungai air mata yang tak ada samudranya
Itulah kasbon

Matahari terbit… Kasbon !
Matahari tenggelam… Kasbon !
Mimpi kaum peronda !

Selembar kertas yang membungkus jenazah pengangguran
Itulah kasbon

Jakarta, 24 April 1998

Terimakasih Ricky



Resiko

Ini adalah salah satu lirik dari lagu Iwan Fals yang tidak beredar. Yang pernah mendengarkan lagu ini, saya yakin banyak yang setuju kalau menjadi salah satu lagu Iwan Fals yang LUAR BIASA. Rangkaian kata yang ditulis Iwan Fals dalam lagu ini memberi semangat kita dalam menjalani kehidupan nyata. Apalagi lagu ini dinyanyikan cukup mantab dan lantang dengan tempo cepat namun masih bisa diikuti. Dan musiknya... hmmmm... bagus banget (paling tidak berdasar selera saya). Suatu kombinasi lirik, gaya bernyanyi dan musik yang bagus menjadikan lagu ini pantas diacungi empat jempol (kalau jempolku ada lima, tak kasih semuanya :) ).

Lagu ini direkam dalam format studio pada sekitar tahun 1996. Sebuah rekaman yang tampaknya sudah matang dan siap jual. Namun mengapa lagu sebagus ini tidak beredar ya?. Sebuah pertanyaan yang selalu terlontar dari para penggemar. (sb)

catatan: tidak diketahui apa judul sebenarnya dari lagu ini karena dapatnya tanpa judul. Namun kebanyakan kolektor memilih judul berdasarkan kata yang relevan dalam lirik.

Belum pernah dengar lagunya?. Mudah-mudahan Iwan Fals mau mengedarkan lagu ini, atau minimal menyanyikannya dalam konser.

------------------------------

Resiko
Iwan Fals


Bekerja orang–orang bekerja
Melamun orang–orang melamun

Apa yang dikerjakan
Apa yang dilamunkan
Kehidupan tetap berjalan

Tertawa orang–orang tertawa
Menangis orang–orang menangis

Apa yang ditertawakan
Apa yang ditangisi
Kehidupan tetap berjalan

Ketika merasa kehilangan pegangan
Aku butuh bersandar... aku butuh memeluk-Mu
Ketika merasa kehilangan keyakinan
Aku butuh bicara dengan-Mu... aku butuh diri-Mu

Bekerja orang–orang bekerja
Melamun orang–orang melamun
Tertawa orang–orang tertawa
Menangis orang–orang menangis

Apa yang dikerjakan
Apa yang dilamunkan
Apa yang ditertawakan
Apa yang ditangisi

Elang terbang sendiri
Diantara dua bukit kerontang
Matanya menujam ke bumi
Sayapnya indah merentang

Elang terbang sendiri
Sudah kodratnya demikian
Mestinya ia merasa sepi
Tapi sungguh ia tak kesepian

Elang terbang sendiri
Diketiak langit dipayungi awan
Suaranya perih kehati
Menjadi impian

Elang terbang sendiri
Hidupnya dikejar bayangan
Peluru pemburu menunggu
Ludah pedagang mencincang

Resiko bersikap jujur dibilang sombong
Resiko bersikap jujur dibilang takabur
Namun aku takkan doyong… namun aku takkan kabur

Resiko bersikap berani dibilang goblok
Resiko bersikap berani dibilang tak tau diri
Namun aku takkan rontok… namun aku takkan lari

KEJUJURAN DAN KEBERANIAN MEMANG LANGKA DI JAMAN SEPERTI INI...
NAMUN BUKAN BERARTI TIDAK ADA...

terimakasih untuk Fendi


Maling Budiman

Menurut Iwang Noorsaid dalam sebuah artikel, lagu Iwan Fals ini sudah menjadi master namun tidak sempat diedarkan. Tidak dijelaskan kenapa lagu Iwan Fals ini tidak beredar. Lagu ini direkam sekitar tahun 1996/1997. Lagu ini sangat sederhana namun mempunyai kekuatan lirik yang luar biasa. Dan kini versi kopian (yang sudah tidak jernih suaranya) dari lagu ini hanya dimiliki para kolektor lagu-lagu langka Iwan Fals.

Maling Budiman
(Iwan Fals)

Saatnya cuci kaki menjelang tidur
Namun otak tak mau diam
Walau badan sudah tak berdaya

Seharian banting tulang, seharian cari hutangan
Seharian kerja
Eh.. kerja serabutan

Mata sulit pejam pikir hari depan
Perut rasa lapar malas makan

Terpaksa tuk rebahan dilantai rumah kontrakan
Dengan lagu sengsara
Kisah maling budiman

Tiba tiba saja ide hebat nyelonong
Menyelinap ke hati
Tak sabar menunggu pagi

Mata sulit pejam pikir hari depan
Perut rasa lapar malas makan

Suara adzan bernyanyi terus menggoda
Kisah maling budiman menjadi inspirasi
Malam makin Subuh mimpi tak berlabuh
Sang khayal berjanji ingin pergi ke Makkah

Saatnya cuci kaki menjelang tidur
Namun otak tak mau diam
Walau badan sudah tak berdaya

Seharian banting tulang, seharian cari hutangan
Seharian kerja
Kerja serabutan

terima kasih untuk dOel yang sudah membantu sempurnakan dan ketik ulang lirik ini


Mari Kita Terus Bekerja

Berikut ini adalah salah satu lagu Iwan Fals yang tidak pernah dikomersialkan. Dari rekaman yang kami dengarkan, lagu ini sepertinya rekaman di studio. Tidak jelas tahun berapa, namun dari karakter vocal Iwan Fals diperkirakan lagu ini direkam pada akhir 90-an. Lirik lagu Iwan Fals ini memberi semangat agar kita tidak malas.

Mari Kita Terus Bekerja
Iwan Fals


Jangan termangu saja mendekati harapan yang panjang
Cepat bangunlah jiwa yang tidur
Karena tergempur oleh hidup yang keras

Kini hari tetap berlanjut tak boleh surut
Banyak yang bisa dikerjakan
Atau percuma seperti janjinya

Bekerjalah bekerja terus bekerja
Selagi kita masih ada tenaga
Hiduplah menjalani semua
Dan jangan rugikan orang lain

Mari kita terus bekerja

(dari Fendi)



Mari Terus Bekerja

Ini adalah lirik lagu Iwan Fals yang tidak pernah dikomersialkan. Dari rekaman yang kami dengarkan, lagu ini dinyanyikan dalam sebuah konser. Tidak jelas konser dimana dan kapan, namun karakter vokal Iwan Fals dalam lagu ini sudah berat. Diperkirakan lagu ini dinyanyikan Iwan Fals pada era tahun 1998-an keatas. Lagu slow dengan irama balada yang hanya diiringi gitar akustik. Iwan Fals menyanyikan lagu ini dengan penuh penghayatan dan pada bagian reff-nya, lengkingan suara Iwan Fals mampu membuat merinding.

Mari Terus Bekerja
(Iwan Fals)


Sebelum matahari bersinar
Sebelum ayam jantan saling bersahutan
Kita bersujud bersyukur pada-Nya
Atas segala yang telah diberikan-Nya

Kerja adalah makna hidup
Kerja ibadah tak berakhir
Kerja sudah suratan takdir
Kerja apa saja yang penting halal

Mari Terus Bekerja !


Terbuka

Terbuka
(Iwan Fals)

Sebuah lirik dari lagu Iwan Fals yang tidak/belum dikomersialkan. Dari karakter vokal Iwan Fals, diperkirakan lagu ini direkam antara tahun 1992 - 1996.

Terbuka... terbukalah semua
Biarkan... cahaya bersinar
Terbuka... terbukalah semua
Biarkan... gairah bicara

Ketika mulai berbuat
Pastikan langkah jangan goyah

Selamat tinggal semua yang kelam
Mencair sudah yang beku
Kenapa mesti diselimuti gagap
Semua sudah terjawab

Kemarin... sempat ku terlena
Sekarang... aku pun terlena
Tetapi... kemarin dan sekarang berbeda
Kemarin kemarin... sekarang sekarang

dari Fendi Kurniawan


Jalan Masih Panjang

Jalan Masih Panjang
(Iwan Fals)

Lirik dari salah satu lagu Iwan Fals yang tidak pernah diedarkan

Matahari bersinar dari balik tembok kaca
Sinarnya putih mengusir rasa malas
Diruang tamu para sahabat bicara apa saja
Sadarkan aku dunia selalu menunggu

Anak-anak didepan TV
Menggoda ibu
Suaranya bagai pedang nabi

Duduk di kursi menghadap mesin membaca buku waktu
Bersikap pasti agar tak oleng diserang haru biru
Cerita teman garuda nangkring di pelangi

Waktu yang berjalan melindas sudah tidak tak berbekas
Kalau saja kita bisa tenang terima segala gempuran
Gairah bertahan tak bosan-bosan mengilik iman

Haus darah didalam bibir
Menggoda ayah
Amisnya aku ingin muntah

Kembali ke diri menjalani sepi
Jernihkan pikiran tidaklah mudah
Menyalakan api menerangi bumi
Melihat kedepan merangkul teman
Jalan masih panjang

Matahari bersinar dari balik tembok kaca
Diruang tamu para sahabat bicara apa saja
Duduk di kursi menghadap mesin membaca buku waktu
Bersikap pasti agar tak oleng diserang haru biru

Waktu berjalan melindas sudah tidak tak berbekas
Kalau saja kita bisa tenang terima segala gempuran
Matahari bersinar dari balik tembok kaca
Mataharipun bersinar diatas batas
Sinarnya putih mengusir rasa malas

Anak-anak didepan TV
Menggoda ibu
Suaranya bagai pedang nabi

Haus darah didalam bibir
Menggoda ayah
Amisnya aku ingin muntah


Aku Penyanyi Jalanan

Aku Penyanyi Jalanan
(Iwan Fals)

Ini adalah salah satu lagu Iwan Fals yang tidak beredar

Aku penyanyi jalanan
Aku nyanyi di jalannya
Tempatku luas tetapi sempit
Luas karena dimana-mana ada jalan
Sempit karena dimana-mana orang mencari jalan

Jalanan rumah pertama dan terakhirku
Jalanan tempat orang-orang dilarang membuang sampah
Jalananku sekarang beda dengan dulu
Jalananku sekarang ongkosnya mahal

Dijalanan aku mendapat debu
Dijalanan aku menjadi manusia
Dijalanan banyak pilihan
Bukan hanya ke kiri atau ke kanan

Dijalanan pikiran dan hatiku merdeka
Oooh ooohh….

Aku penyanyi jalanan
Laguku bukan candu
Aku penyanyi jalanan
Diantara banyak jalan aku mencari jalan
Berdarah itu resiko

Lalalala lalalalala lalalala

Dijalanan aku mendapat debu
Dijalanan aku menjadi manusia
Dijalanan banyak pilihan
Bukan hanya ke kiri atau ke kanan

Dijalanan pikiran dan hatiku merdeka
Oooh ooohh….

Aku penyanyi jalanan
Aku nyanyi di jalannya
Aku penyanyi jalanan
Laguku bukan candu
Aku penyanyi jalanan
Berdarah itu resiko

Lalalala lalalalala lalalala

Berdarah itu resiko

Lalalala lalalalala lalalala

foto dari iwanfals.co.id


Sagu Ambon

Sagu Ambon
Lirik: W.S. Rendra
Lagu: Iwan Fals


Lagu ini pernah dibawakan Iwan Fals saat ulang tahun pertama Reboan di Leuwinanggung (rumah Iwan Fals), 11 oktober 2006.

Ombak mengalun, oh Mamae
Pohon-pohon palam dibukit Sakinah
Burung-burung nuri menjerit
Daripada membakar Masjid
Daripada membakar Gereja
Lebih baik bakar sagu saja

Pohon-pohon kelapa berdansa
Gitar dan tifa bergitar
Suaraku dibawa angin putaran
Oh ikan ditaman karang yang bercahaya
Saudara-saudaraku
Lihat Mama kita berjongkok didepan kota yang terbakar

Tanpa kusadari langitmu jadi sedih, Mamae
Air mata kita menjadi tinta sejarah yang kejam
Laut sepi tanpa kapal nelayan
Bumi meratap dan terluka
Dimana nyanyian anak-anak sekolah, Mamae?
Dimana selendangmu, Nonae?

Didalam api unggun aku membakar sagu
Aku lihat permusuhan antara saudara itu percuma
Luka saudara, luka kita

Ombak mengalun, oh Mamae…

Terimakasih Ricky

Foto dari iwanfals.co.id


Nyanyian Sopir

Nyanyian Sopir
(Iwan Fals)


Satu lagi lirik lagu Iwan Fals yang tidak/belum pernah di komersilkan. Lirik yang keren. Kata-katanya mudah dimengerti dan apa adanya. Lagu dengan irama blues ini bercerita tentang kehidupan sopir di jalanan. (sb)

Iwan Fals: "Ini kalau.. kalau ngga ada sopir... kayaknya ngga sampai disini... terima kasih..!"

Suka duka manusia yang kerjanya sebagai sopir
Hari harinya dibelakang setir
Sopir pribadi, kantor atau angkutan umum
Minum bahan bakar, makannya onderdil

Mobil dicuci sambil nyanyi teganya nasib
Tunggu perintah orang yang punya hajat
Kalau nasib baik dapat Polisi yang baik
Kalau sedang sial ada saja yang nakal

Sopir-sopir nembak SIM antri di loket
Sopir-sopir paling jago menilai to**t
Sopir-sopir mati kutu dijalan yang macet
Sopir-sopir masuk tol dompetmu mejret

Hidup dijalan tergantung rem dan sempritan
Juga pom bensin, traffic light dan pedagang asongan
Sumpah serapah orang-orang yang nggak sabaran
Hiburan rutin bahan cerita pulang

Tanpa terasa rambut botak atau beruban
Waktu berjalan hidup tetap dijalan
Jalanan macet setel kaset-kaset yang meleyot
Jalanan lancar rejekinya meleyot

Sopir-sopir banyak yang punya ilmu pelet
Sopir-sopir mogok nyopir langsung di jepret
Sopir-sopir tahan banting tak tahan di gencet
Sopir-sopir rata rata bininye merentet

Sopir-sopir nembak SIM antri di loket
Sopir-sopir paling jago menilai copet
Sopir-sopir mati kutu dijalan yang macet
Sopir-sopir masuk tol dompetmu mejret

Sopir-sopir banyak yang punya ilmu pelet
Sopir-sopir mogok nyopir langsung di jepret
Sopir-sopir tahan banting tak tahan di gencet
Sopir-sopir rata rata bininye cerewet

terimakasih untuk Fendi


Bunga Kayu di Beranda

Sebuah lagu Iwan Fals yang tidak/belum pernah dikomersilkan. Dalam situs resminya (iwanfals.co.id) Iwan Fals menjelaskan kalau lagu ini dibuat 12 tahun yang lalu. Berkisah tentang suasana batin dan ukiran bunga yang dipajang diatas kursi diberanda belakang rumahnya saat masih kontrak di Bintaro. Dan saat itu dia sedang dalam kondisi demam.

Bagi yang memiliki atau minimal pernah mendengarkan rekaman demo lagu ini pasti cukup menyukainya. Lagu dengan irama santai ini cukup enak didengarkan sambil ngopi di sore hari. Saya kadang berharap suatu saat nanti Iwan Fals merilis lagu ini. (sb)

Bunga Kayu di Beranda
(Iwan Fals)

Ada malam tak berbintang
Ada siang yang dingin
Kenapa kau mesti bimbang?
Karena soal kemarin

Bunga kayu di beranda
Warnanya merah dan putih
Kursi kosong yang menunggu
Siapa yang duduk disitu?

Malam yang tak berbintang pasti tak kekal
Siang hari yang dingin juga tak kekal
Kamu yang sedang bimbang duduklah disitu
Tinggalkan yang kemarin jangan disimpan

Bunga kayu di beranda
Warnanya mulai memudar
Hmmmm… mmmmm…

Malam yang tak berbintang pasti tak kekal
Siang hari yang dingin juga tak kekal
Kamu yang sedang bimbang duduklah disitu
Tinggalkan yang kemarin jangan disimpan (2x)

Ada malam tak berbintang
Ada siang yang dingin
Kenapa kau mesti bimbang?
Karena soal kemarin

terimakasih untuk Fendi
foto dari iwanfals.co.id


Belatung

Belatung
(Iwan Fals)


Lirik lagu Iwan Fals yang belum pernah diedarkan. Iwan Fals saat membaca lirik ini sempat bingung, dia tidak ingat kalau pernah menulis lirik lagu ini dan dia juga tidak memiliki rekamannya. Lantas kolektor menyerahkan rekaman lagu ini dan Iwan Fals baru yakin kalau dia dulu pernah menyanyikannya.

Belatung-belatung cepat datang cepat pergi
Pikiranku mengembara lagi
Disamping kolam ikan
Diatas lantai beton
Saat hujan rintik-rintik
Tetanggaku menjemur pakaian

Seekor kadal buntung mati
Mayatnya hijau kehitam-hitaman
Seekor lalat hijau kepalanya merah
Menjilat-jilat bangkainya
Seekor lalat hitam bersayap coklat
Kadang ikut menjilat-jilat juga

Seekor belatung ditinggal pergi
Teman-temannya pergi
Bau busuk menganggu hidupku
Suaranya lalat hijau yang lain terus berbunyi

Sebentar hinggap dibangkai
Sebentar hinggap ditelingaku
Suasana sepi membantu
Bau bangkai terbawa angin
Matahari bersinar terang
Hujan rintik-rintik membasahi bebatuan

Aku mulai menjauh …

Makasih Fendi
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share