Tokoh Tokoh Dalam Lagu Iwan Fals (Bagian 3 - Habis)

Lanjutan dari bagian 2

Dalam lagu lagu komersial Iwan Fals, dia banyak menyelipkan nama-nama tokoh. Ada yang nyata dan ada juga yang fiktif. Beberapa nama fiktif tersebut sampai sekarang masih terasa nyata dan ada sehingga banyak yang mengira tokoh imajinasi seorang Iwan Fals tersebut memang ada dan hidup disekitar kita. (sb)

Tokoh Tokoh Dalam Lagu Iwan Fals (Bagian 3 - Habis)

29. Durno dan Bimo
Kedua tokoh ini terdapat dalam lagu Nak yang ada di album 1910 (1988). Tokoh tokoh ini ada dalam dunia perwayangan. Durno / Druna adalah guru yang pandai mengembangkan seni pertempuran. Dalam perwayangan Jawa, Drona berwatak tinggi hati, sombong, congkak, bengis, banyak bicaranya, tetapi kecakapan, kecerdikan, kepandaian dan kesaktiannnya luar biasa serta sangat mahir dalam berperang.
Sedangkan Bimo memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta menganggap semua orang sama derajatnya.
Dalam lagu ini Iwan Fals seperti mengolok-olok secara kritis pada generasi muda agar menjadi orang yang berguna.

30. Westerling
Nama tokoh ini ada di lagu Pesawat Tempur dalam album 1910 (1988). Raymond Pierre Paul Westerling (Istanbul, Turki, 31 Agustus 1919–Purmerend, Belanda, 26 November 1987) adalah komandan pasukan Belanda yang terkenal karena memimpin Pembantaian Westerling (1946-1947) di Sulawesi Selatan dan percobaan kudeta APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di Bandung, Jawa Barat.
Dalam lagu ini nama Westerling hanya numpang lewat ketika Iwan Fals mencibir pasangannya yang hanya tersenyum dan dikatakan kalau hanya senyum, Westerling juga bisa.

31. Bento
Tokoh rekaan ini tentu sudah tidak asing ditelinga kita. Nama Bento ada pada lagu dengan judul yang sama dari album Swami (1989). Bento disini dikisahkan sebagai seorang yang tampan, berkuasa dan kaya raya.
Namun Bento ternyata licik, dia memanfaatkan kekuasaannya untuk menumpuk kekayaan, menipu dan menerima upeti. Dalam kesehariannya Bento menutupi keburukannya dengan selalu bicara soal moral dan keadilan.
Hingga saat ini kita masih sering menyaksikan Bento-Bento kesiangan yang berkoar di seluruh media.

32. Ronggowarsito
Nama ini terdapat dalam lagu Condet dari album Swami (1989). Raden Ngabehi Ronggowarsito (lahir: Surakarta, 1802 – wafat: Surakarta, 1873) adalah pujangga besar budaya Jawa yang hidup di Kasunanan Surakarta. Ia dianggap sebagai pujangga terakhir tanah Jawa.
Dalam lagu ini Iwan Fals menceritakan ketimpangan dalam hidup dahulu dan sekarang. Dahulu segalanya indah dan damai, sekarang seperti semuanya kacau dan tidak tertata. Kemajuan teknologi yang tidak terkendali memberi dampak negatif untuk kehidupan seperti penipisan lapisan ozon.
Nama Ronggowarsito diibaratkan sebagai kondisi masa lalu. Kemudian dibandingkan dengan sekarang dimana orang lebih mengagumi jeritan dan gemuruh dari grup band Rolling Stones.

33. Paman Doblang
Nama rekaan ini menjadi judul lagu yang ada dalam album Kantata Takwa (1990). Paman Doblang dikisahkan sebagai seorang yang tidak mendapatkan keadilan. Dia menerima fitnah lalu dituduh salah dan dipenjara begitu saja tanpa pengadilan oleh penguasa. Lalu paman Doblang hanya bisa pasrah dan berdoa.

34. Cikal
Cikal adalah nama putri kedua Iwan Fals (Anissa Cikal Rambu Basae). Nama ini menjadi judul lagu yang terdapat dalam album Cikal (1991). Lagu ini memuat lirik yang sangat sulit dimengerti. Tidak banyak yang bisa diceritakan dari lirik dalam lagu ini yang tidak satupun menyebut kata Cikal. Pemahaman tentang lirik lagu ini tentu berbeda.
Pesan moral yang terdapat dalam lirik lagu ini begitu indah untuk diresapi bagi kita manusia yang mau berpikir pada kenyataan bahwa kita lahir dengan kesucian. Pengaruh lingkungan akan membawa kita kepada jalan apa saja yang dipilih. Mendidik seorang anak sangat penting, agar kelak dia dapat membuat kita bangga.
Sepenggal penjelasan itu bisa menggambarkan kejeniusan Iwan Fals dalam menulis lirik lagu.

35. Yani
Dalam lagu Untuk Yani di album Cikal (1991), nama ini hanya terdapat dalam judulnya saja. Tidak banyak yang mengenal tokoh ini. Sebuah informasi mengatakan bahwa Yani bernama Arahmaiani, seorang aktifis peduli lingkungan hidup. Dia juga seorang senirupa instalasi art ITB.

36. Bram
Dalam lagu Untuk Bram di album Cikal (1991), seperti lagu Untuk Yani, nama Bram hanya menjadi judul. Iwan Fals dalam sebuah konsernya sebelum menyanyikan lagu ini menyinggung kalau nama Bram adalah panggilan akrab Mahesa Ibrahim, musisi yang ikut terlibat dalam album ini.

37. Ramang, Kadir, Rully, Ricky, Ronny, Herry, Nobon, Juki, Cipto, Iswadi, Yudo dan Paslah
Nama-nama diatas adalah legenda sepakbola Indonesia yang dikutip dalam lagu Mereka Ada Di Jalan dari album Belum Ada Judul (1992). Iwan Fals berkisah tentang olahraga sepakbola yang semakin tersisihkan di kota-kota besar. Sarana untuk bermain bola tergusur oleh pembangunan. Tanah lapang menjadi rebutan untuk didirikan gedung. Sehingga anak-anak kecil di perkotaan kesulitan mendapatkan sarana untuk berolahraga. Sebuah lagu yang tajam mengkritisi tentang ketidakseimbangan pembangunan yang melupakan sarana bermain hanya demi keuntungan belaka. Kesenjangan hidup di kota besar juga digambarkan dengan kalimat, "Anak kota tak mampu beli sepatu".
Iwan Fals bercerita tentang anak-anak kecil yang bermain bola di lapangan yang terbentuk bekas penggusuran. Anak-anak kecil itu begitu bersemangat bermain bola hingga Iwan Fals mengandaikan mereka seperti tokoh legenda sepakbola Indonesia masa lalu yang mampu mengharumkan nama bangsa.

Ramang (karir 1952-1962) (meninggal di Makassar, 26 September 1987) adalah pemain sepak bola Indonesia dari PSM Makassar yang terkenal pada tahun 1950-an. Ia berposisi sebagai penyerang. Dia pernah mengantarkan PSM ke tangga juara pada era Perserikatan serta pernah memperkuat tim nasional sepak bola Indonesia. Era emas pertama diukir oleh Ramang Cs dengan prestasi yang masih dikenang yaitu menahan imbang raksasa Uni Soviet 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956.

Abdul Kadir (karir 1968-1975) (lahir: Denpasar, Bali 27 Desember 1949 - meninggal: Jakarta, 4 April 2003) adalah pemain sepak bola legendaris Indonesia. Dia populer dengan julukan si Kancil. Dia pernah mengikuti berbagai pertandingan internasional seperti Merdeka Games tahun 1969, King Cup tahun 1968 dan Piala Aga Khan di Pakistan.

Rully Rudolf Nere (karir 1977-1989) (Papua, 13 Mei 1957) adalah salah satu pemain sepak bola legendaris Indonesia dengan posisi gelandang. Ia pernah memperkuat timnas nasional beberapa kali pada periode tahun 1980-an. Dalam kompetisi liga, ia memperkuat Persipura Jayapura.

Ricky Yacob (karir 1982-1993) (lahir: Medan, Sumatera Utara, 12 Maret 1963) adalah seorang pemain sepakbola legendaris Indonesia dengan posisi penyerang. Masa keemasannya terjadi pada paruh kedua dekade 1980-an. Karir sepakbolanya banyak dihabiskan bersama klub Arseto Solo.

Ronny Pattinasarani (alm) (karir 1970-1982) (Makassar, Sulawesi Selatan, 9 Februari 1949) adalah salah satu pemain sepak bola legendaris Indonesia yang berposisi sebagai libero. Dia mendapat banyak berprestasi dimasa keemasannya yaitu, Pemain Asia All Star (1982), Olahragawan Terbaik Nasional (1976 dan 1981), Pemain Terbaik Galatama (1979 dan 1980), Medali Perak SEA Games (1979 dan 1981).

Herry Kiswanto (karir 1985-1993) (Kuta Alam, Banda Aceh, 25 April 1955) adalah salah satu pemain sepak bola legendaris Indonesia. Posisinya di lapangan sebagai libero. Dalam karirnya ia hanya pernah mendapat sekali kartu kuning yaitu ketika membela Krama Yudha Tiga Berlian melawan Pelita Jaya di era Galatama.

Nobon Kayamudin (karir 1971-1979) adalah salah satu pemain sepak bola legendaris Indonesia. Dia berposisi sebagai gelandang. Dia juga mendapat julukan Biang Kerok.

Marzuki Nya Mad adalah pemain sepakbola legendaris Indonesia. Dia pernah bermain bagus pada Asian Games 1986. Marzuki Nyak Mad cs (Niac Mitra) juga pernah menahan PSV dengan Eric Gerets dan Ruud Gullit-nya 3-3 di Senayan dalam sebuah pertandingan persahabatan di era 80-an.

Sutjipto Soentoro (alm) adalah pemain sepak bola legendaris Indonesia pada masa 60-an sampai 70-an. Dia menempati posisi sebagai penyerang. Dia juga mendapat julukan si Gareng. Bersama dengan Iswadi Idris, Abdul Kadir, dan Jacob Sihasale, dikenal dengan sebutan "kuartet tercepat di Asia" berkat kecepatan dan kelincahan mereka yang luar biasa.

Iswadi Idris (karir 1968-1980) (Banda Aceh, 18 Maret 1948 – meninggal: Jakarta, 11 Juli 2008) adalah salah satu pemain sepak bola legendaris Indonesia. Pemain yang dijuluki "Boncel" karena tubuhnya relatif pendek (tinggi 165 cm) ini termasuk pemain paling berbakat yang dimiliki Indonesia. Ia memperkuat timnas PSSI sebagai pemain gelandang pada era 1960-an dan 1970-an. Selama menjadi pemain, Bang Is, demikian ia akrab disapa, sangat menggemari nomor punggung 13.

Yudo Hadianto (karir 1961-1974) (Solo, Jawa Tengah, 19 September 1941) adalah salah satu kiper sepak bola legendaris Indonesia era 1960-an dan 1970-an. Pada masanya ia sempat diakui sebagi kiper terbaik Asia.

Ronny Pasla (Medan, 15 April 1947) adalah mantan kiper Indonesia yang berkiprah sekitar tahun 1960’an – awal 1970. Pensiun dari dunia sepak bola di usia 40 tahun. Klub terakhir yang diperkuatnya adalah Indonesia Muda (IM), Jakarta pada 1985. Di Timnas, Ronny pensiun di usia 38 tahun. Saat Timnas Brazil melakoni tur ke Asia pada 1972, Brazil saat itu diperkuat pesepakbola legendaris dunia, Pele, singgah ke Indonesia. Dalam laga tersebut Indonesia kalah 1-2, tapi tetap menjadi momen terindah bagi Ronny, karena berhasil menahan eksekusi penalti Pele.

38. Dalbo
Nama Dalbo menjadi judul lagu dalam album Dalbo (1993). Dalbo sendiri berarti anak genderuwo. Dikisahkan dalam lagu ini Dalbo adalah seorang yang tidak mengenal siapa kedua orang tuanya. Dia hidup sebatang kara tanpa ada yang peduli. Namun dia tidak mau dikatakan sebagai anak haram. Dia lebih suka disebut anak alam.

39. Yos
Nama Yos disebutkan dalam lagu Menunggu Ditimbang Malah Muntah dari album Orang Gila (1994). Yos adalah nama panggilan untuk istri Iwan Fals yang bernama Rossana. Dalam lagu ini Iwan Fals berkisah tentang kesehariannya di rumah.
Dalam kehidupan nyatanya dia gelisah membaca berita surat kabar yang penuh dengan kabar tidak menggembirakan tentang situasi negara ini. Ditengah sendirinya membaca media cetak di kamar mandi sambil buang hajat, Iwan Fals mendengar kedua anaknya (waktu itu, Galang baru datang dari sekolah dan Cikal yang asik bermain sendiri). Setelah itu dia keluar dan melihat kedua anaknya tertidur begitu juga dengan Yos.

40. Udin
Fuad Muhammad Syafruddin yang akrab dipanggil Udin adalah wartawan Harian Bernas, Yogyakarta, yang dianiaya oleh orang tidak dikenal, dan kemudian meninggal dunia. Sebelum kejadian ini, Udin kerap menulis artikel kritis tentang kebijakan pemerintah Orde Baru dan militer. Udin lahir di Bantul pada 18 Februari 1964. Ia menjadi wartawan di Harian Bernas sejak 1986.
Selasa malam, pukul 23.30 WIB, 13 Agustus 1996, ia dianiaya pria tak dikenal di depan rumah kontrakannya, di dusun Gelangan Samalo, Jalan Parangtritis Km 13 Yogyakarta. Udin yang sejak malam penganiayaan itu, terus berada dalam keadaannya koma dan dirawat di RS Bethesda, Yogyakarta. Esok paginya, Udin menjalani operasi otak di rumah sakit tersebut. Namun, dikarenakan parahnya sakit yang diderita akibat pukulan batang besi di bagian kepala itu, akhirnya Udin meninggal dunia pada Jumat, 16 Agustus 1996, pukul 16.50 WIB.
Lagu Buat Penyaksi (Lagu Untuk Udin) berada pada album Kantata Samsara (1998). Perlu untuk diketahui bahwa kasus ini sampai sekarang tidak jelas dimana letak keadilannya. Sebuah kebenaran harus tetap disuarakan walaupun itu pahit.

41. Munir
Tokoh pejuang HAM Indonesia Munir Said Thalib yang tewas dibunuh pada 2004 dengan konspirasi tingkat tinggi menggugah Iwan Fals untuk membuat lagu. Lagu Pulanglah yang terdapat dalam album 50:50 (2007) dipersembahkan untuk perjuangan Munir.
Hingga saat ini pembunuh Munir dan dalangnya tidak jelas kita ketahui, dan sampai tulisan ini diterbitkan, proses pengadilan masih berjalan. Beberapa pejabat yang berwenang seperti lepas tangan dan saling bungkam juga saling melindungi. Beberapa orang yang telah ditangkap dan diadili terkesan hanya sebagai tumbal. Entah apa motif dibalik pembunuhan ini yang melibatkan kepentingan tertentu.
Tapi jangan lupa, sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, suatu saat baunya pasti tercium.

42. Gandhi
Dalam lagu Rubah dari album 50:50 (2007), Iwan Fals mengkritisi situasi saat ini dimana perubahan kehidupan sosial semakin jelas dirasa. Nama Mahatma Gandhi seorang tokoh dari India disebut disini. Mohandas Karamchand Gandhi (2 Oktober 1869—30 Januari 1948) adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India.
Pada masa kehidupan Gandhi, banyak negara yang merupakan koloni Britania Raya. Penduduk di koloni-koloni tersebut mendambakan kemerdekaan agar dapat memerintah negaranya sendiri.
Gandhi adalah salah seorang yang paling penting yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. Dia adalah aktivis yang tidak menggunakan kekerasan, yang mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai.
Iwan Fals mengungkapkan bahwa banyak orang mencari figur seperti Gandhi, namun yang didapat adalah komedi. Yang dimaksud komedi adalah tokoh-tokoh yang suka memutar balikkan fakta dan bicara tidak sesuai dengan kenyataan alias tukang tipu, sehingga kita sering tertawa sendiri menyaksikan kekonyolan itu.

43. Azahari
Masih dalam lagu Rubah dari album 50:50 (2007), tokoh Doktor Azahari disebutkan oleh Iwan Fals. Azahari adalah tokoh yang dituduh merancang beberapa kasus pengeboman di Indonesia. Dan dia dikabarkan tewas dalam sebuah penggerebekan oleh polisi di tahun 2005.
Dalam liriknya Iwan Fals berkata orang menantikan hadirnya suatu revolusi yang merubah kehidupan sosial disini menjadi lebih baik, namun yang hadir adalah Azahari. Yang dimaksud disini adalah teror bom yang meresahkan.

--------------------------------------

Demikian yang sempat penulis rangkum. Kurang lebihnya mohon maaf. Terima Kasih. (sb)

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share