Dec
Budaya Nongkrong
Hubungan antara Anak, Ayah, dan Ibu
1. ibu lebih banyak memberi perhatian secara langsung daripada ayah. misalnya, ibu sering memberi uang, afeksi, barang-barang yang dibutuhkan anak. meskipun barang itu biasanya ayah yang membelikan, tetapi lebih sering atas nama ibu daripada ayah. sehingga anak lebih sayang terhadap ibunya daripada ayahnya. dan ibu juga lebih mengerti bagaimana anaknya itu.
2. keberadaan ayah dirumah sangat jarang dikarenakan kesibukan pekerjaan ayah atau hal yang lainnya. sehingga anak jarang bertemu dengan ayah. hal ini menyebabkan komunikasi antara anak dan ayah kurang sehingga dapat menyebabkan anak kurang bersimpati terhadap ayah. apalagi sebagai seorang kepala keluarga ayah sangat menjaga keluarganya dengan cara apapun, mungkin caranya yang salah dengan memarah-marahi anaknya sehingga anak menjadi takut dan sungkan untuk berkomunikasi dengan ayah. apalagi anak dijaman sekarang sangatlah kritis. apabila ada sesuatuj dari kedua orang tuanya tidak srek atau menjanggal dihati anak, maka anak itu akan memberontakdan menjauh (tidak benci). biasanya sepulang bekerja dengan kondisi tubuh yang capek emosi ayah akan meningkat, apabila mendengar hal-hal yang tidak enak dari anak maka ayah lebih sering menggunakan emosinya daripada hatinya. berbeda dengan ibu, ibu lebih sering menggunakan hatinya daripada emosinya.
mungkin lebih banyak lagi faktor yang menyebabkan anak lebih cenderung ke ibunya daripada ke ayahnya yang belum di tulis oleh penulis. kurang lebihnya saya (penulis) meminta maaf atas kesalahan dan kekurangan dalm penulisan tersebut.
Tentang maniac
beberapa minggu ini saya mulai tertarik untuk melihat dunia nyata melalui teknologi dunia maya, internet. suatu teknologi yang membawa saya dan teman-teman saya untuk surfing, terbang, dan ke mana pun kita ingin pergi, sampai kadang-kadang kita lupa alamat rumah kita sendiri, sangat aneh, tapi saya tidak pernah lupa dimana saya menaruh makanan dan minuman yang selalu menyertai saya ketika saya bertamasya di dunia maya,
Dec
Misteri Ka'bah Yang Fenomenal

Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, “Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya ?.”

Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayang nya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut.

Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka’Bah. Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite ( tidak berujung ), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka’Bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.

Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.
Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu lah ketika kita mengelilingi Ka’Bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air. Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut ( dari Ka’Bah ) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.
Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda :
"Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam"
PIAGAM MADINAH: PERLEMBAGAAN PERTAMA DI DUNIA

HAK ASASI MANUSIA
- Banu 'Awf (dari Yatsrib) tetap mempunyai hak asli mereka, tanggung menanggung uang tebusan darah (diyat).
- Dan setiap keluarga dari mereka membayar bersama akan uang tebusan dengan baik dan adil di antara orang-orang beriman.
- Banu Sa'idah (dari Yatsrib) tetap atas hak asli mereka, tanggung menanggung uang tebusan mereka.
- Dan setiap keluarga dari mereka membayar bersama akan uang tebusan dengan baik dan adil di antara orang-orang beriman.
- Banul-Harts (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, saling tanggung-menanggung untuk membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
- Setiap keluarga (tha'ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
- Banu Jusyam (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
- Setiap keluarga (tha'ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
- Banu Najjar (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) dengan secara baik dan adil.
- Setiap keluarga (tha'ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang beriman.
- Banu 'Amrin (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
- Setiap keluarga (tha'ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan
adil di kalangan orang-orang beriman.
- Banu An-Nabiet (dari suku Yatsrib) tetap berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
- Setiap keluarga (tha'ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
- Banu Aws (dari suku Yatsrib) berpegang atas hak-hak asli mereka, tanggung-menanggung membayar uang tebusan darah (diyat) di antara mereka.
- Setiap keluarga (tha'ifah) dapat membayar tebusan dengan secara baik dan adil di kalangan orang-orang beriman.
PERSATUAN SEAGAMA
- Segenap orang-orang beriman yang bertaqwa harus menentang setiap orang yang berbuat kesalahan , melanggar ketertiban, penipuan, permusuhan atau pengacauan di kalangan masyarakat orang-orang beriman.
- Kebulatan persatuan mereka terhadap orang-orang yang bersalah merupakan
tangan yang satu, walaupun terhadap anak-anak mereka sendiri.
- Tidak diperkenankan seseorang yang beriman membunuh seorang beriman lainnya karena lantaran seorang yang tidak beriman.
- Tidak pula diperkenankan seorang yang beriman membantu seorang yang kafir untuk melawan seorang yang beriman lainnya.
- Jaminan Allah adalah satu dan merata, melindungi nasib orang-orang yang lemah.
- Segenap orang-orang yang beriman harus jamin-menjamin dan setiakawan sesama mereka daripada (gangguan) manusia lainnya.
- Perdamaian dari orang-orang beriman adalah satu
- Tidak diperkenankan segolongan orang-orang yang beriman membuat perjanjian tanpa ikut sertanya segolongan lainnya di dalam suatu peperangan di jalan Allah, kecuali atas dasar persamaan dan adil di antara mereka.
- Segenap orang-orang yang beriman harus memberikan pembelaan atas tiap-tiap darah yang tertumpah di jalan Allah.
- Setiap orang beriman yang bertaqwa harus berteguh hati atas jalan yang baik dan kuat.
- Perlindungan yang diberikan oleh seorang yang tidak beriman (musyrik) terhadap harta dan jiwa seorang musuh Quraisy, tidaklah diakui.
- Campur tangan apapun tidaklah diijinkan atas kerugian seorang yang beriman.
- Barangsiapa yang membunuh akan seorang yang beriman dengan cukup bukti atas perbuatannya harus dihukum bunuh atasnya, kecuali kalau wali (keluarga yang berhak) dari si terbunuh bersedia dan rela menerima ganti kerugian (diyat).
- Segenap warga yang beriman harus bulat bersatu mengutuk perbuatan itu, dan tidak diijinkan selain daripada menghukum kejahatan itu.
- Tidak dibenarkan bagi setiap orang yang mengakui piagam ini dan percaya kepada Allah dan hari akhir, akan membantu orang-orang yang salah, dan memberikan tempat kediaman baginya.
- Siapa yang memberikan bantuan atau memberikan tempat tinggal bagi pengkhianat-pengkhianat negara atau orang-orang yang salah, akan mendapatkan kutukan dan kemurkaan Allah di hari kiamat nanti, dan tidak diterima segala pengakuan dan kesaksiannya.
GOLONGAN MINORITI
- Kaum Yahudi dari suku 'Awf adalah satu bangsa-negara (ummat) dengan warga yang beriman.
- Kaum Yahudi bebas memeluk agama mereka, sebagai kaum Muslimin bebas memeluk agama mereka.
- Kebebasan ini berlaku juga terhadap pengikut-pengikut/sekutu-sekutu mereka, dan diri mereka sendiri.
- Kecuali kalau ada yang mengacau dan berbuat kejahatan, yang menimpa diri orang yang bersangkutan dan keluarganya.
- Kaum Yahudi dari Banu Tsa'labah, diperlakukan sama seperti kaum yahudi dari Banu 'Awf di atas
- Kecuali orang yang mengacau atau berbuat kejahatan, maka ganjaran dari pengacauan dan kejahatannya itu menimpa dirinya dan keluarganya.
- Banu Syuthaibah diperlakukan sama seperti kaum Yahudi dari Banu 'Awf di atas.
- Sikap yang baik harus dapat membendung segala penyelewengan.
TUGAS WARGA NEGARA
- Tidak seorang pun diperbolehkan bertindak keluar, tanpa ijinnya Muhammad SAW.
- Seorang warga negara dapat membalaskan kejahatan luka yang dilakukan orang kepadanya
- Siapa yang berbuat kejahatan, maka ganjaran kejahatan itu menimpa dirinya dan keluarganya, kecuali untuk membela diri
- Allah melindungi akan orang-orang yang setia kepada piagam ini
- Kaum Yahudi memikul biaya negara, sebagai halnya kaum Muslimin memikul biaya negara
- Di antara segenap warga negara (Yahudi dan Muslimin) terjalin pembelaan untuk menentang setiap musuh negara yang memerangi setiap peserta dari piagam ini
- Di antara mereka harus terdapat saling nasihat-menasihati dan berbuat kebajikan, dan menjauhi segala dosa
- Seorang warga negara tidaklah dianggap bersalah, karena kesalahan yang dibuat sahabat/sekutunya
- Pertolongan, pembelaan, dan bantuan harus diberikan kepada orang/golongan yang teraniaya
MELINDUNGI NEGARA
- Tidak boleh terjadi suatu peristiwa di antara peserta piagam ini atau terjadi pertengkaran, melainkan segera dilaporkan dan diserahkan penyelesaiannya menurut (hukum ) Allah dan (kebijaksanaan) utusan-Nya, Muhammad SAW
- Allah berpegang teguh kepada piagam ini dan orang-orang yang setia kepadanya
POLITIK PERDAMAIAN
- Apabila mereka diajak kepada perdamaian (dan) membuat perjanjian damai (treaty), mereka tetap sedia untuk berdamai dan membuat perjanjian damai
- Setiap kali ajakan perdamaian seperti demikian, sesungguhnya kaum yang beriman harus melakukannya, kecuali terhadap orang (negara) yang menunjukkan permusuhan terhadap agama (Islam)
- Kewajiban atas setiap warganegara mengambil bahagian dari pihak mereka untuk perdamaian itu
- Dan sesungguhnya kaum Yahudi dari Aws dan segala sekutu dan simpatisan mereka, mempunyai kewajiban yang sama dengan segala peserta piagam untuk kebaikan (perdamaian) itu
- Sesungguhnya kebaikan (perdamaian) dapat menghilangkan segala kesalahan
PENUTUP
- Setiap orang (warganegara) yang berusaha, segala usahanya adalah atas dirinya
- Sesungguhnya Allah menyertai akan segala peserta dari piagam ini, yang menjalankannya dengan jujur dan sebaik-baiknya
- Sesungguhnya tidaklah boleh piagam ini dipergunakan untuk melindungi orang-orang yang zalim dan bersalah
- Sesungguhnya (mulai saat ini), orang-orang yang bepergian (keluar), adalah aman
- Dan orang yang menetap adalah aman pula, kecuali orang-orang yang dhalim dan berbuat salah
- Sesungguhnya Allah melindungi orang (warganegara) yang baik dan bersikap taqwa (waspada)
- Dan (akhirnya) Muhammad adalah Pesuruh Allah, semoga Allah mencurahkan shalawat dan kesejahteraan atasnya
Menurut riwayat Ibnu Ishaq dalam bukunya Sirah an-Nabi SAW juz II hal 119-123, dikutip Ibnu Hisyam (wafat : 213 H.828 M). Diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh A. Guillaume, The Life of Muhammad (1955) dan Muhammad Hamidullah, The First Written Constitution in the World (1965). disistematisasikan ke dalam pasal-pasal oleh Dr. AJ Wensinck dalam bukunya Mohammad en de Yoden le Medina (1928), pp. 74-84, dan W Montgomery Watt dalam bukunya Mohammad at Medina (1956), pp. 221-225
Bershalawat; Menciptakan Kelapangan di Dalam Dada
Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Q.S. Al-Ahzaab: 56)
Ayat ini turun bukan hanya untuk sahabat Nabi, namun ayat ini turun
sampai dengan manusia di akhir zaman. Ini artinya bahwa ayat ini
memerintahkan kita juga untuk bershalawat kepada Rasulullah, sekalipun
Rasulullah sudah meninggal 14 abad yang lampau.
Ubay bin Ka’ab bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, berapa banyak saya harus mengucapkan shalawat untukmu?”
Rasulullah menjawab, “Sesukamu.”
Lalu Ubay bertanya lagi, “Apakah seperempat atau dua pertiga?”
Rasulullah menjawab, “Sekehendakmu. Dan jika engkau tambahkan, maka itu lebih baik.”
Jadi, makin banyak kita bershalawat kepada Nabi, maka akan semakin bagus. Ini adalah jaminan dari Rasulullah Saw.
Lalu Ubay kemudian bertanya lagi, “Apakah shalawatku untukmu seluruhnya?”
Rasulullah menjawab, “Karena itu, dosamu akan diampuni, dan kesedihanmu akan dihilangkan.”
Berarti Rasulullah proaktif memintakan untuk orang yang suka
bershalawat terhadapnya agar Allah mengampuni dosa orang tersebut. Hal
ini sesuai dengan firman Allah:
Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati
dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya
dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun
memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha
Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. An-Nisaa: 64)
Rasulullah bersabda:
Jadi, jika kita rajin bershalawat kepada Rasulullah Saw, maka dosa
kita akan diampuni, dan kesedihan akan dihilangkan. (H.R. Tirmidzi).
Jangan pernah merasa rugi bershalawat terhadap Rasulullah. Dua dalil
menguatkan mengenai hal ini. Dengan bershalawat, maka rasa sedih dan
duka bisa hilang. Jadi, jika kita malas bershalawat, maka akan ada dua
poin yang akan kita rasakan:
1) Barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan
membalas dengan sepuluh shalawat baginya. Jika seseorang tidak
bershalawat sekalipun, maka itu artinya dia tidak akan mendapat
shalawat dari Allah.
2) Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku, kata Rasulullah, pada
malam Jum’at dan hari Jum’at. Sebab shalawat kalian diperlihatkan
kepadaku.
Ini semakin memperkuat kita, bahwa meskipun Rasulullah sudah tiada
dan meninggal, dia tetap secara rohani menyaksikan siapa di antara
umatnya yang paling rajin mengingatnya, mencintainya, dan membacakan
shalawat terhadapnya.
Ibnu Taimiyah berkata: “Shalawat yang paling sempurna adalah shalawat Ibrahimiyah,” yaitu yang sering kita baca ketika tahiyat:
Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammad. Kama
shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim. Wa baarik ‘ala Muhammadin
wa ‘ala aali Muhammad. Kama baarakta ‘ala Ibrahim, wa ‘ala aali
Ibrahim. Fil ‘alamina innaka hamiidun majid.
Inilah shalawat yang paling kuat, yang paling afdhal, menurut Ibnu Taimiyah. Karena itulah, Rasulullah mencontohkan bacaan ini.
Shalawat terhadap Nabi akan memberikan dampak langsung kepada diri
kita sendiri. Akan memberikan dampak pencerahan terhadap batin kita.
Karena itu, pembacaan shalawat Nabi dengan cara penghayatan bagaimana
nikmatnya shalawat itu, maka itu akan membekas di dalam batin kita.
Perasaan jadi tenang, rindu kita kepada Rasulullah Saw. Dan untuk itu,
marilah kita bershalawat terhadap Rasulullah, kita lantunkan dengan
suara dalam kita sendiri.
Ya abbazzahra…
Melantunkan bait-bait ini adalah sama dengan shalawat Nabi. Bahkan
suara batin kita sendiri yang kita suarakan terhadapnya, itu akan
langsung menyentuh diri kita sendiri, dan insya Allah Rasulullah Saw
akan memberikan syafa’at nantinya ketika di akhirat.
Marilah dengan penuh senang hati dan penuh rasa cinta kepada junjungan
kita Rasulullah Saw, kita memberikan shalawat terhadapnya. Semoga
shalawat yang telah kita bacakan akan mendpatkan manfaat bagi diri kita
sendiri, tentunya juga dengan mengenang Rasulullah Saw.
Di dalam kitab-kitab kuning banyak sekali menganjurkan untuk kita membaca shalawat nabi. Bahkan Rasulullah Saw bersabda:
“Alangkah kikirnya umatku manakala namaku disebutkan, tapi tidak mengingat aku, tidak bershalawat terhadapku.”
Di dalam Kitab Irsyadul ‘ibad dikisahkan, bahwa ada seorang ibu yang
wirid rutinnya itu dia tidak baca wirid-wirid lain karena tidak hapal,
namun yang paling simpel yang ia baca adalah shalawat nabi. Mungkin ia
juga tidak pintar membaca Al-Qur’an sehingga jarang mengaji. Tapi yang
selalu ia ulang-ulangi kalimat yang ia hafal adalah shalawat nabi.
Ketika ibu itu setiap kali mencuci pakaian di pinggir sumur, setiap
kali sikat pakaiannya bergetar, setiap itu pula ia bershalawat nabi.
Jadi gerakan tangannya diikuti dengan shalawat nabi. Ketika timbanya
naik juga diikuti dengan shalawat nabi. Tiba-tiba anaknya terperosok
masuk ke dalam sumur tersebut, kemudian ia refleks mengucapkan,
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad”. Ia membutuhkan waktu memanggil orang,
dan akhirnya anak itu diangkat ke atas. Masya Allah, ternyata anak itu
tidak tenggelam, bahkan rambutnyapun tidak basah.
Banyak keajaiban-keajaiban yang sering dialami oleh orang-orang yang
banyak zikirnya, termasuk menzikirkan membaca shalawat nabi.
Rasulullah sendiri mengatakan kepada kita, “Kalau kalian sering
bershalawat terhadapku, maka dosanya akan diampuni dan dadanya akan
dilapangkan.”
Banyak jenis shalawat, mana yang paling afdhal?
Menurut Ibnu Taimiyah, shalawat yang paling sempurna adalah shalawat
Ibrahimiyah. Ini pendek, semua kita pasti hapal karena sudah pasti kita
membacanya setiap shalat. Kalau kita shalat mayyit, Shalawat
Ibrahimiyah ini saja dibaca, kalau kita tidak bisa menghapal shalawat
yang lebih panjang, karena bertingkat-tingkatnya shalawat nabi
tersebut.
Kalau kita mendapatkan kegelisahan dan kegersangan hati, bacalah
Shalwat Nabi. Di dalam sebuah kitab disebutkan, bahwa kalau suatu waktu
kita melupakan sesuatu, maka kita dianjurkan membaca Shalawat Nabi.
Shalawat Nabi juga bagus dibaca ketika telinga kita mendengung.
Diriwayatkan, bahwa kalau telinga kita mendengung, entah kanan atau
kiri, maka bacalah Shalawat Nabi.
Kemudian, zakarallahu bikhairin wa zakarani.
Ada juga yang senantiasa mewiridkan Shalawat Nabi ketika kakinya
sedang kesemutan. Bahkan ada yang mengatakan, sekalipun kita di kamar
mandi, kalau ketika itu kita mendengarkan nama Nabi Muhammad
disebutkan, kita juga boleh bershalawat di kamar mandi atau kakus
tersebut.
Lafadz-lafadz shalawat itu betapa banyak memberikan manfaat untuk
ketenangan jiwa dan kelapangan dada, bahkan juga berfungsi sebagai
pengampunan dosa dan menghibur Rasulullah Saw. Lafadz-lafadz lain yang
perlu kita perhatikan juga adalah lafadz: “Hasbunallah wa ni’mal wakil,
ni’mal maula wa ni’mal nashir, wa la haula wala quwwata illa billahi
hal ‘aliyyul ‘azim.” Jadi, di dalam Wirid As-Syifa kita ditutup dengan
lafadz ini.
Di dalam Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali disebutkan, bahwa
kata-kata ini: “Hasbunallah wa ni’mal wakil …” diucapkan oleh Nabi
Ibrahim ketika ia dilemparkan ke dalam api, sehingga api itu tiba-tiba
menjadi dingin dan tidak mematikan Nabi Ibrahim.
Juga lafadz tersebut diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam Perang
Uhud, lalu Allah menolongnya. Kita tahu, bahwa pada Perang Uhud itu
Kaum Muslimin mengalami kekalahan, terdesak, terjebak, dipukul mundur,
dikepung, namun kemudian ada keajaiban yang menyelamatkan pasukan Kaum
Muslimin ketika itu, walaupun harus melangkah mundur. Beliau
(Rasulullah) mengucapkan lafadz tersebut (hasbunallah wa ni’mal
wakil…).
Dalam riwayat juga disebutkan, lafadz ini (hasbunallah wa ni’mal
wakil…) juga diucapkan oleh Nabi Musa ketika ia melihat lautan
terbentang di depan matanya, sedangkan musuh mengejar di belakangnya.
Maka dengan izin Allah, ia kemudian menjadi selamat.
Dalam kondisi ketika kita terdesak oleh suatu problema yang sangat
besar, maka kita tidak boleh kosong, kita tidak boleh tidak ada upaya,
dan ingatlah bahwa lafadz-lafadz tersebut penting untuk diucapkan.
Seperti difirmankan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, bahwa ketika Nabi
Adam sedang terdesak, diajarkan: “Wa ‘allama adama al-asma-a kullaha.”
Allah mengajari Nabi Adam ketika ia sedang terdesak dengan sebuah
kalimat (al-asma).
Di dalam kitab-kitab tafsir disebutkan, bahwa al-asma tersebut
adalah Shalawat Nabi. Jadi, Nabi Muhammad belum lahir, namun sudah ada
perintah kepada Nabi Adam untuk membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad
Saw. Kalau kita lihat di dalam buku-buku tasawuf, mengapa Nabi Adam
bershalawat kepada Nabi Muhammad, sedangkan Nabi Muhammad ketika itu
belum hadir (belum dilahirkan) ke dunia ini. Nabi Adam itu adalah “Abul
basyaril ula” (Bapak biologis pertama). Sedangkan Nabi Muhammad adalah
“Aburruuhil ula” (Bapak roh manusia pertama). Karena itu sering
diistilahkan, bahwa Nabi Muhammad itu sesungguhnya adalah Nabi Pertama
sekaligus Nabi Terakhir. Secara biologis Nabi Muhammad adalah Nabi
Terakhir, tapi secara rohani ia adalah Nabi Pertama. Nabi Adam secara
biologis adalah Nabi Pertama, tapi bukan secara rohani. Wallahu a’lam.
Karena itu, para nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad sudah tahu bahwa
Nabi Muhammad Saw akan hadir. Inilah kemuliaannya Nabi Muhammad Saw.
Jadi, kalimat-kalimat penting tersebut di atas penting juga untuk
kita ingat ketika kita dalam keadaan terdesak. Jangan sampai kita
memanggil Bapak kita, memanggil suami, atau siapa saja makhluk Allah,
tapi panggillah Allah ketika kita terdesak itu. Bagaimana memanggil
Allah tersebut? “Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’mal
nashir wa la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azim”
“Ketika hamba menyadari bahwa semua ini adalah perlindungan rabbani,
tentunya ia juga akan menyadari bahwa di sana ada Tuhan Yang Maha
Kuasa, Maha Penolong, Maha Pelindung, dan Maha Pengasih.”
Ketika kita membutuhkan pertolongan kepada Tuhan, seandainyapun kita
terlempar, tercebur ke tengah samudera tanpa penolong, pada saat itu
juga harus kita mengingat Allah, tidak boleh putus asa. Dalam kondisi
seperti apapun kita tidak boleh putus harapan, putus asa terhadap
Allah. Sekalipun kita diceburkan ke tengah samudera tanpa penolong
siapapun juga, tetap kita tidak boleh putus asa. Kita pasrahkan total
diri kita kepada Allah.
Allah berfirman:
Wallahu khairun hafidzan, wa huwa arhamarrahimin
“Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”
Ada yang hafidz, tapi tidak rahman dan rahim. Sedangkan Allah adalah
Al-Hafidz (Pemelihara) yang sekaligus Al-Rahman (Pengasih) dan Al-Rahim
(Penyayang). Banyak sekali orang yang memperhatikan, banyak juga orang
yang memelihara, serta banyak juga orang yang bertanggungjawab, tapi
tidak memiliki kasih dan sayang. Beda halnya dengan Allah, menjadi
pemelihara dan juga menjadi pengasih dan penyayang terhadap yang
dipelihara-Nya. Karena itu, kalau kita sudah serahkan diri kita kepada
Allah Swt dalam kalimat, “Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa
ni’mal nashir wa la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azim”,
mau kemana lagi kita. Kalau Allah menghendaki, laut itu tidak mau
menenggelamkan sahabat Tuhan. Laut memang mematikan, tapi ada contoh
kalau laut itu takut juga terhadap Tuhan. Kalau laut yang mematikan,
maka matilah Nabi Musa. Mengapa Nabi Musa tidak tenggelam di lautan?
Berjalan di atas air, tidak tega air itu membunuh sahabat-Nya. Tidak
tega ikan itu menelan dan memusnahkan sahabat-Nya yang bernama Nabi
Yunus. Tidak tega api itu membakar sahabat-Nya Nabi Ibrahim. Tidak tega
kuman (virus) itu mematikan Nabi Ayyub. []
Disarikan dari Pengajian Tasawwuf yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. pada tanggal 20 Juni 2007 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.
Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy
Penjara tempat tahanan orang-orang di situ terasa hening mencengkam. Jeneral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.
Setiap banduan penjara membongkokkan badannya rendah-rendah ketika ‘algojo penjara’ itu melintasi di hadapan mereka. Kerana kalau tidak, sepatu ‘boot keras’ milik tuan Roberto yang fanatik Kristian itu akan mendarat di wajah mereka. Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseoran mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci.
“Hai…hentikan suara jelekmu! Hentikan…!” Teriak Roberto sekeras-kerasnya sambil membelalakkan mata.
Namun apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap saja bersenandung dengan khusyu’nya. Roberto bertambah berang. Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebih sekadar cukup untuk satu orang.
Dengan marah ia menyemburkan ludahnya ke wajah tua sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyucuh wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala. Sungguh ajaib… Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan.
Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat galak untuk meneriakkan kata Rabbi, wa ana ‘abduka… Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, “Bersabarlah wahai ustaz…InsyaALlah tempatmu di Syurga.”
Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustaz oleh sesama tahanan, ‘algojo penjara’ itu bertambah memuncak marahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-kerasnya sehingga terjerembab di lantai.
“Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa hinamu itu?! Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu! Ketahuilah orang tua dungu, bumi Sepanyol ini kini telah berada dalam kekuasaan bapa kami, Tuhan Jesus. Anda telah membuat aku benci dan geram dengan ‘suara-suara’ yang seharusnya tidak didengari lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mahu minta maaf dan masuk agama kami.”
Mendengar “khutbah” itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ia lalu berucap,
“Sungguh…aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, ALlah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika aku turuti kemahuanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh.”
Sejurus sahaja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendarat di wajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah berlumuran darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah ‘buku kecil’. Adolf Roberto berusaha
memungutnya. Namun tangan sang Ustaz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. “Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!” bentak Roberto.
“Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!”ucap sang ustaz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. Sepatu lars seberat dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustaz yang telah lemah.
Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto. Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan ‘algojo penjara’ itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.
Setelah tangan tua itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya baran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung.
“Ah…seperti aku pernah mengenal buku ini. Tetapi bila? Ya, aku pernah mengenal buku ini.”
Suara hati Roberto bertanya-tanya. Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan “aneh” dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Sepanyol.
Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustaz yang sedang melepaskan nafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.
Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto. Pemuda itu teringat ketika suatu petang di masa kanak-kanaknya terjadi kekecohan besar di negeri tempat kelahirannya ini. Petang itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa gugur di bumi Andalusia.
Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin petang yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara. Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mahu memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.
Seorang kanak- kanak laki-laki comel dan tampan, berumur sekitar tujuh tahun, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Kanak kanak comel itu melimpahkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. Perlahan-lahan kanak – kanak itu mendekati tubuh sang ummi yang tak sudah bernyawa, sambil menggayuti abinya. Sang anak itu berkata dengan suara parau, “Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telah malam. Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa….? Ummi, cepat pulang ke rumah ummi…”
Budak kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu apa yang harus dibuat . Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah. Akhirnya budak itu berteriak memanggil bapaknya, “Abi…Abi…Abi…” Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapa ketika teringat petang kelmarin bapanya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.
“Hai…siapa kamu?!” jerit segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati budak tersebut. “Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi…” jawabnya memohon belas kasih. “Hah…siapa namamu budak, cuba ulangi!” bentak salah seorang dari mereka. “Saya Ahmad Izzah…” dia kembali menjawab dengan agak kasar. Tiba-tiba “Plak! sebuah tamparan mendarat di pipi si kecil. “Hai budak…! Wajahmu cantik tapi namamu hodoh. Aku benci namamu. Sekarang kutukar namamu dengan nama yang lebih baik. Namamu sekarang ‘Adolf Roberto’…Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang buruk itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!” ancam laki-laki itu.”
Budak itu mengigil ketakutan, sembari tetap menitiskan air mata. Dia hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapangan Inkuisisi. Akhirnya budak tampan itu hidup bersama mereka.
Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustaz. Ia mencari-cari sesuatu di pusat laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah ‘tanda hitam’ ia berteriak histeria, “Abi…Abi…Abi…” Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu. Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai ‘tanda hitam’ pada bahagian pusat.
Pemuda bengis itu terus meraung dan memeluk erat tubuh tua nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas tingkah-lakunya selama ini. Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun lupa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, “Abi… aku masih ingat alif, ba, ta, tha…” Hanya sebatas kata itu yang masih terakam dalam benaknya.
Sang ustaz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyeksanya habis-habisan kini sedang memeluknya. “Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi, tunjukkan aku pada jalan itu…” Terdengar suara Roberto meminta belas.
Sang ustaz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika setelah puluhan tahun, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.
Sang Abi dengan susah payah masih boleh berucap. “Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu,” Setelah selesai berpesan sang ustaz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah “Asyahadu anla IllaahailALlah, wa asyahadu anna Muhammad Rasullullah…’. Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.
Kini Ahmah Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, ‘Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya…”
Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.
Benarlah firman Allah…
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama ALlah, tetaplah atas fitrah ALlah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah ALlah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. 30:30)
Syeikh Al-Islam Turki yang terakhir iaitu As-Syeikh Mustafa Al Basri telah menegaskan dalam bukunya …
Sekularisme yang memisahkan ajaran agama dengan kehidupan dunia merupakan jalan paling mudah untuk menjadi murtad.
Dari : Al-Manahil
Dec
UNM Tuan Rumah Rakor Kemitraan Pembangunan Pendidikan KTI
Tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah membangun kemitraan dalam pembangunan pendidikan di KTI, khususnya pada Pencapaian Lima Misi Pembangunan Pendidikan Nasional, yaitu ketersediaan Layanan Pendidikan, Keterjangkauan Layanan Pendidikan, Kualitas dan Relevansi Layanan Pendidikan, Kesetaraan dalam Memperoleh Layanan Pendidikan, dan Kepastian/ Keterjaminan Memperoleh Layanan Pendidikan.
Pembukaan Rakor Jumat 17/12/2010 dihadiri oleh Guburnur Sul-Sel sekaligus yang membuka acara ini, Walikota Makassar, Sekjen Dikti MENDIKNAS , Kepala LPMP, USAID, Rektor UNM, Pembantu Rektor IV sebagai ketua panitia, dan segenap civitas akademika UNM. Dihadiri pula oleh stakeholder pembangunan pendidikan di wilayah KTI; Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Kota, Anggota DPR Komisi Pendidikan, Kepala Dinas Pendidikan, Lembaga Donor Intrenasional yang bergerak dalam bidang pendidikan, Pakar Pendidikan, Perusahaan, dll.
Gubernur Sul-Sel, Dr. H. Syahrul Yasin Limpo, S.H., M.H., M.Si mengatakan bahwa kegiatan Rakor ini merupakan gagasan besar dari UNM yang sangat penting dan strategis dilaksanakan karena sangat menentukan kehidupan bangsa yang akan datang khususnya dalam hal memperbaiki pendidikan, apalagi Kawasan Timur merupakan masa depan Indonesia. Semua harus dimulai dari pendidikan melihat kompleksitas masalah yang kita hadapi saat ini. Agenda intelektual mesti ditata dengan baik.
Pada kesempatan yang sama Rektor UNM, Prof. Dr. Arismundar, M.Pd., mengatakan bahwa sehubungan dengan pembangunan pendidikan, beberapa program-program untuk peningkatan mutu pendidikan telah banyak dilaksanakan dan UNM juga sudah melakukan persiapan yang matang untuk membangun pendidikan. Sebagai tuan rumah dalam kegiatan ini, Rektor UNM berharap bahwa Makassar, khususnya Sulawesi Selatan harus menjadi pusat lokomotif pertumbuhan pendidikan di Kawasan Tmur Indonesia.
Agenda lain pada pembukaan Rakor adalah penandatanganan MoU antara UNM dengan stakeholder pembangunan pendidikan di wilayah Kawasan Timur Indonesia; Pemerintah Provinsi dan Kabupaten Kota dalam hal kemitraan dalam pembangunan pendidikan di Kawasan Timur Indonesia di masa yang akan datang.Sumber : http://www.unm.ac.id/
Dec
Ucapkan Sayidina
Kata-kata “sayyidina” atau ”tuan” atau “yang mulia” seringkali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun di luar shalat. Hal itu termasuk amalan yang sangat utama, karena merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.
Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyatakan:
الأوْلَى ذِكْرُالسَّيِّادَةِ لِأنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَ بِ
“Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santunkepada Beliau (Adab).” (Hasyisyah al-Bajuri, juz I, hal 156).
Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW:
عن أبي هريرةقا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafa’at.” (Shahih Muslim, 4223).
Hadits ini menyatakan bahwa nabi SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani:
“Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits 'saya adalah sayyidnya anak cucu adam di hari kiamat.' Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan ‘Adam di dunia dan akhirat”. (dalam kitabnya Manhaj as-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169)
Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayyidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.
Lalu bagaimana dengan “hadits” yang menjelaskan larangan mengucapkan sayyidina di dalam shalat?
لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ
“Janganlah kalian mengucapakan sayyidina kepadaku di dalam shalat”
Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayyidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah dhalalah, bid’ah yang tidak baik.
Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak singkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakan سَادَ- يَسِيْدُ , akan tetapi سَادَ -يَسُوْدُ , Sehingga tidak bisa dikatakan لَاتُسَيِّدُوْنِي
Oleh karena itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayyidina dalam shalat?
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membaca sayyidina ketika membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan. Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam shalat.
Merayakan Maulid Nabi SAW
Menurut Imam As-Suyuthi, tercatat sebagai raja pertama yang memperingati hari kelahiran Rasulullah saw ini dengan perayaan yang meriah luar biasa adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Sa`id Kukburi ibn Zainuddin Ali bin Baktakin (l. 549 H. - w.630 H.). Tidak kurang dari 300.000 dinar beliau keluarkan dengan ikhlas untuk bersedekah pada hari peringatan maulid ini. Intinya menghimpun semangat juang dengan membacakan syi’ir dan karya sastra yang menceritakan kisah kelahiran Rasulullah SAW.
Di antara karya yang paling terkenal adalah karya Syeikh Al-Barzanji yang menampilkan riwayat kelahiran Nabi SAW dalam bentuk natsar (prosa) dan nazham (puisi). Saking populernya, sehingga karya seni Barzanji ini hingga hari ini masih sering kita dengar dibacakan dalam seremoni peringatan maulid Nabi SAW.
Maka sejak itu ada tradisi memperingati hari kelahiran Nabi SAW di banyak negeri Islam. Inti acaranya sebenarnya lebih kepada pembacaan sajak dan syi`ir peristiwa kelahiran Rasulullah SAW untuk menghidupkan semangat juang dan persatuan umat Islam dalam menghadapi gempuran musuh. Lalu bentuk acaranya semakin berkembang dan bervariasi.
Di Indonesia, terutama di pesantren, para kyai dulunya hanya membacakan syi’ir dan sajak-sajak itu, tanpa diisi dengan ceramah. Namun kemudian ada muncul ide untuk memanfaatkan momentum tradisi maulid Nabi SAW yang sudah melekat di masyarakat ini sebagai media dakwah dan pengajaran Islam. Akhirnya ceramah maulid menjadi salah satu inti acara yang harus ada, demikian juga atraksi murid pesantren. Bahkan sebagian organisasi Islam telah mencoba memanfaatkan momentum itu tidak sebatas seremoni dan haflah belaka, tetapi juga untuk melakukan amal-amal kebajikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk Islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat.
Kembali kepada hukum merayakan maulid Nabi SAW, apakah termasuk bid`ah atau bukan?
Memang secara umum para ulama salaf menganggap perbuatan ini termasuk bid`ah. Karena tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah saw dan tidak pernah dicontohkan oleh para shahabat seperti perayaan tetapi termasuk bid’ah hasanah (sesuatu yang baik), Seperti Rasulullah SAW merayakan kelahiran dan penerimaan wahyunya dengan cara berpuasa setiap hari kelahirannya, yaitu setia hari Senin Nabi SAW berpuasa untuk mensyukuri kelahiran dan awal penerimaan wahyunya.
عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ الأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الْإِثْنَيْنِ فَقَالَ” : فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ . رواه مسلم
“Dari Abi Qotadah al-Anshori RA sesungguhnya Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai puasa hari senin. Rasulullah SAW menjawab: Pada hari itu aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku.” (H.R. Muslim)
Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’ ” (QS.Yunus:58).
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Hal itu dikarenakan bahwa saat Rasulullah saw lahir, dia sangat gembira menyambut kelahirannya sampai-sampai dia merasa perlu membebaskan (memerdekakan) budaknya yang bernama Tsuwaibatuh Al-Aslamiyah.
Jika Abu Lahab yang non-muslim dan Al-Qur’an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW, maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW?
HM Cholil Nafis MA
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) PBNU
Peringatan Houl
سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
Inilah yang menjadi sandaran hukum Islam bagi pelaksanaan peringatan haul atau acara tahunan untuk mendoakan dan mengenang para ulama, sesepuh dan orang tua kita.
Diriwayatkan pula bahwa para sahabat pun melakukan apa yang telah dilakukan Rasulullah. Berikut ini adalah kutipan lengkap hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi:
وَ رَوَى الْبَيْهَقِي فِي الشَّعْبِ، عَنِ الْوَاقِدِي، قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزُوْرُ الشُّهَدَاءَ بِأُحُدٍ فِي كُلِّ حَوْلٍ. وَ إذَا بَلَغَ رَفَعَ صَوْتَهُ فَيَقُوْلُ: سَلاَمٌ عَلَيْكُم بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّار
Al-Baihaqi meriwayatkan dari al-Wakidi mengenai kematian, bahwa Nabi SAW senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun alaikum bima shabartum fani’ma uqbad daar” –QS Ar-Ra’d: 24– Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.
Lanjutan riwayat:
ثُمَّ أبُوْ بَكْرٍ كُلَّ حَوْلٍ يَفْعَلُ مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ عُمَرُ ثُمَّ عُثْمَانُ. وَ كاَنَتْ فَاطِمَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا تَأتِيْهِ وَ تَدْعُوْ. وَ كاَنَ سَعْدُ ابْنِ أبِي وَقَّاصٍ يُسَلِّمُ عَلَيْهِمْ ثُمَّ يَقْبَلُ عَلَى أصْحَابِهِ، فَيَقُوْلُ ألاَ تُسَلِّمُوْنَ عَلَى قَوْمٍ يَرُدُّوْنَ عَلَيْكُمْ بِالسَّلَامِ
Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Utsman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Saad bin Abi Waqqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, ”Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?”
Demikian dalam kitab Syarah Al-Ihya juz 10 pada fasal tentang ziarah kubur. Lalu dalam kitab Najhul Balaghah dan Kitab Manaqib As-Sayyidis Syuhada Hamzah RA oleh Sayyid Ja’far Al-Barzanji dijelaskan bahwa hadits itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah untuk yang melakukan Ziarah Rajabiyah (ziarah tahunan setiap bulan Rajab) ke maka Sayidina Hamzah yang duitradisikan oleh keluarga Syeikh Junaid al-Masra’i karena ini pernah bermimpi dengan Hamzah yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut.
Para ulama memberikan arahan yang baik tentang tata cara dan etika peringatan haul. Dalam al-Fatawa al-Kubra Ibnu Hajar mewanti-wanti, jangan sampai menyebut-nyebut kebaikan orang yang sudah wafat disertai dengan tangisan. Ibnu Abd Salam menambahkan, di antara cara berbela sungkawa yang diharamkan adalah memukul-mukul dada atau wajah, karena itu berarti berontak terhadap qadha yang telah ditentukan oleh Allah SWT.
Saat mengadakan peringatan haul dianjurkan untuk membacakan manaqib (biografi yang baik) dari orang yang wafat, untuk diteladani kebaikannya dan untuk berbaik sangka kepadanya. Ibnu Abd Salam mengatakan, pembacaan manaqib tersebut adalah bagian dari perbuatan taat kepada Allah SWT karena bisa menimbulkan kebaikan. Karena itu banyak para sahabat dan ulama yang melakukannya di sepanjang masa tanpa mengingkarinya.
Demikianlah. Dalam muktamar kedua Jam’iyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah atau jam’iyyah tarekat-tarekat di lingkungan NU di Pekalongan Jawa Tengah pada 8 Jumadil Ula 1379 H bertepatan dengan 9 November 1959 M para kiai menganjurkan, sedikitnya ada tiga kebaikan yang bisa dilakukan pada arara peringatan haul:
1. Mengadakan ziarah kubur dan tahlil
2. Menyediakan makanan atau hidangan dengan niat sedekah dari almarhum.
3. Membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an dan memberikan nasihat agama, antara lain dengan menceritakan kisah hidup dan kebaikan almarhum agar bisa diteladani.
KH Aziz Mashuri
Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang
Dec
Mengistimewakan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw
Kebiasaan itu berlansung dalam waktu yang lama. Pada saat pemuda itu wafat penduduk kota mendengar suara dari angkasa; 'wahai penduduk kota Bashrah datanglah, dan layatlah wali Allah Swt. Sebab dia memiliki kududukan terhormat disisi-Ku. Kemudian penduduk kota melayat, dan menghadiri pemakaman pemuda itu. Pada saat penduduk Bashrah tidur, mereka bermimpi melihat pemuda itu berjalan dengan gagahnya diatas hamparan kain sutra.
Pemuda itu ditanya, dengan apa engkau mendapat keutamaan ini?
Dia menjawab dengan mengagungkan dan mengistimewakan hari kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw.
Ref:
http://www.habibluthfiyahya.net/index.php?option=com_content&view=article&id=97%3Amengistimewakan-hari-kelahiran-maulid-nabi-muhammad-saw&catid=38%3Ahikmah&Itemid=53&lang=id
Membaca Maulid Nabi (Kisah Hikmah)
Lalu khalifah menyuruh si pemuda di datangkan kehadapannya. Ketika pemuda itu hampir tiba di hadapan khalifah dia berkata dalam hati; 'seandainya Allah Taala menyelamatkanku dari kasus ini, aku akan menyelenggarakan walimah yang meriah dan aku akan membaca maulid Nabi Saw. pada acara itu.
Setelah pemuda sampai ke hadapan khalifah, khalifah memandanginya. Lalu khalifah tertawa setelah terbakar api amarah. Kemudian khalifah bertanya;
'hai pemuda kau pandai ilmu sihir ya? Tanya khalifah sambil tersenyum.
'Tidak, demi Allah duhai Amirul mukminin', jawab si pemuda.
Khalifah berkata: 'Aku telah memafkanmu, tapi katakan padaku kau membaca apa?
Aku berkata dalam hati, seandainya Allah Taala menyelamatkanku dari kejadian yang menakutkan ini, aku akan mengadakan walimah maulid Nabi Saw., jawab sipemuda.
Ref:
http://www.habibluthfiyahya.net/index.php?option=com_content&view=article&id=98%3Amembaca-maulid-nabi-saw&catid=38%3Ahikmah&Itemid=53&lang=id
Kesaksian Allah Swt. atas Risalah dan Keistimewaan Nabi Muhammad Saw
Keduanya banyak di pakai untuk menguatkan kedudukan al Quran al Karim. Sementara hadis qudsi mempunyai keistimewaan lain, yaitu untuk menunjukan bagaimana hubungan Rasulullah Saw. dengan Allah Swt. Jadi Al Quran maupun hadis qudsi sama-sama menunjukan istimewanya kedudukan Nabi Muhammad Saw. disisi Allah Swt.
Al Quran al Adzhim mempunyai dua fungsi. Pertama fungsinya sebagai dasar-dasar ajaran. Fungsi pertama ini mencakup beberapa hal penting: pertama adalah hukum, masalah perintah dan lain sebagainya, ini terangkum dalam Fiqh; selanjutnya akidah atau tauhid; kemudian tasawuf dan terakhir sejarah (tarikh). Fungsi kedua al Quran adalah sebagai dasar dari keyakinan kebenaran Islam. Atau dapat dikatakan juga sebagai syahadah, kesaksian, bukti dari Allah Swt. atas kebenaran Rasulullah Saw. atas semua yang dibawanya dan disampaikan olehnya. Serta sebagai bukti istimewanya kedudukan Nabi Saw. disisi Allah Swt. Semisal kesaksian Allah Swt. bahwa Nabi Muhammad adalah benar-benar Rasul Allah Swt.
Kesaksian-kesaksian Allah Swt. pada Nabi Muhammad diantaranya kesaksian akan sipat, karakter dan fisiknya; “Laqod jaakum Rasulun min anfusikum 'Azizun alaihi ma anittum harishun alaikum bil mu'minina Ro'ufurrohim” (QS: at Taubat: 128). Allah Taala yang menugaskan Nabi sebagai utusan tidak sekedar memerintah, tetapi juga Allah Swt. menerangkan kedudukan yang di
perintah. Mulai dari fisiknya, karakternya, pribadinya dan lain sebagainya, sebagaimana tergambar dalam ayat tersebut. Bukan sekedar memerintah, seperti kebiasaan kita memerintah.
Allah Ta'ala menguatkan kedudukan yang di perintah, dari segi fisik anatominya sampai disebutkan semua dalam al Quran al Adzim. Allah Ta'ala yang menciptakan, menyaksikan, membuktikan kebesaran, keutamaan ciptaan-Nya. Untuk siapa kesaksian Allah Swt. tersebut? Untuk umat. Supaya dengan mudah umat dapat menerima ajaran-ajaran yang dibawanya. Kita bisa mengatakan; yang menciptakan saja menyaksikan, mengakui kebesarannya, kalau kita yang termasuk ciptaanNya tidak mau menyaksikan kebesaran Nabi Muhammad Saw., keterlaluan.
"Laqod jaakum Rasulum min anfusikum", sungguh kami telah mendatangkan kepada kalian manusia, Rasulun, seorang utusan. Utusan yang bagaimana? Allah Ta'ala disini menekankan dengan mengatakan:"min anfusikum", dari kalian jenis manusia. Bukan manusia biasa, tapi manusia luar biasa. Di buktikan dengan keluarbiasaan Rasulullah apa? “‘Azizun alaihi ma annitum”, menanggungkan derita umat, yang pertama. kedua “Harisun alaikum ”, rasa cinta pada umat. Yang ketiga “bilmuminina Ro’ufurrohim”, rasa kasih sayang pada kaum beriman.
Tiga sipat itu seharusnya dimiliki seorang mubaligh. Keberhasilan seorang mubaligh bergantung sebarapa besar rasa ‘azizun alaihi ma annitum’ dalam dirinya. Sebab, itulah dasar pertama untuk mengajak kejalan Allah. Mubaligh harus pula membawa misi “Harishun alaikum”, dan tentu saja, “Bil mukminina Roufurrohim”. Bila mubaligh bisa membawa ini, dalam amar ma’ruf nahi munkar yang dilakukannya, dia tidak akan mendahulukan hawa nafsu.
Perumpamaan 'bilmukminina roufurrohim', seperti kasih sayang orang tua terhadap anaknya. Kerasnya orang tua terhadap anak bukan berarti kebencian, kerasnya orang tua terhadap anak bukan berarti kekejaman, kerasnya orang tua terhadap anak walaupun lahirnya kelihatan keras tapi penuh arti kasih sayang. Seperti anak kecil yang digandeng orang tuanya ketika menyebrang jalan, kendaraan hilir mudik tak beraturan, apakah ketika anak lari akan dibiarkan begitu saja, karena orang tua kesal, semisal. Anak kemudian ditarik oleh orang tuanya dengan keras. Karena apa? Kalau kamu lari, pasti tertabrak mobil atau paling tidak tertabrak sepeda. Tarikan keras yang dilakukan orang tua pada anaknya dalam kondisi seperti itu, bukan karena marah bukan pula karena dendam. Tapi karena sayang. Kalau dendam atau marah sewaktu-waktu kesal, akan dibiarkan. Itu dendam.
Akhirnya masa bodoh; mau hidup atau mati terserah. Bukankah begitu. Orang tua terhadap anak, tidak ada istilah masa bodoh, karena apa? Karena rasa sayang atau dalam al Quran disebut sebagai“Bilmu'minina roufurrohim”. Ini sifat Rasul Saw., ini tidak dimiliki oleh siapapun secara sempurna.
Maka bila kita ‘amar ma'ruf nahi munkar’, prinsip “bilmu'minina roufurrohim”, harus kita pegang betul. Sebab nahi munkar dengan mendahulukan nafsu mana mungkin akan berhasil. Sesaat mungkin orang takut. Seperti kasus minuman keras. Dalam amar ma’ruf atas kasus ini kita selalu menitik beratkan kemunkaran itu hanya pada apa yang diminum, khomr. Lalu kita hancurkan, pabriknya di robohkan. Apa dengan membrantas minuman keras itu mereka pasti sembuh atau spontan dengan itu mereka akan sembuh. Orangnya yang seharusnya anda tuju, bukan justru minuman keras yang anda habisi. Bagaimana kita menyembuhkan si peminum, si pecandu itu? Itulah tugas kita. Kalau kita tidak penuh kasih sayang pada mereka dalam menanganinya, tidak mungkin mereka akan sembuh. Dan kalau kita mendahulukan hawa nafsu, mana mungkin mereka akan mengerti kalau di sayangi. Ini pula yang banyak menyebabkan dakwah kita tidak berhasil.
Nah Rasulullah Saw. telah di didik betul sehingga betul-betul memiliki tiga sifat itu. Hal yang demikian membuahkan “wainaka laala Khuluqin ‘adzim”, sungguh engkau Muhammad memiliki pekerti yang sungguh mulia (QS: al Qalam: 4). Sehingga ayat-ayat:"Azizun alaihii ma annitum”, “harishun alaikum”, “bilmukminina roufurrohim”, hadis "Umirtu liutamimma makairal akhlak", lebih memperkuat 'Wainnaka laala kulukin adzim', sempurnanya pekerti yang dimiliki oleh Rasulullah Saw.
Kesaksian Allah Taala terhadap kerasulan diantarnya adalah “ Yasiin. Wal Quranul hakim. Innaka Laminal mursalin ” (QS: Yasin: 1-3). Kesaksian itu turun pada saat Rasulullah Saw. merasakan bagaimana beratnya menundukan mereka, supaya mereka beriman.
Bukan beratnya menjadi Rasul. Seperti halnya seseorang yang menjadi polisi, beratnya bukan karena statusnya, tapi bagaimana menyadarkan masyarakat, supaya tidak berbuat kejahatan yang merugikan dirinya, merugikan masyarakat. Tanggung jawab itu, lebih berat dari status yang disandangnya.
Itu baru tingkat bawah. Kalau Rasul sudah tidak bisa di buat bandingan. Kronologi turunnya ayat tersebut (asbab al wurud) bermula pada waktu itu Rasulullah Saw. memikirkan bagaimana caranya supaya orang-orang kufar jahiliah beriman atas risalah yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Mayoritas dari mereka lari dan tidak beriman, apalagi sampai mau mengakui risalah
Rasulullah Saw. Tegas Allah taala menurunkan ayat: ” Yasiin. Wal Quranul hakim. Innaka Laminal mursalin”, wahai Yasin, demi al Quran yang mulia. Sungguh engkau sebenar-benarnya utusan. Seakan-akan Allah Swt berfirman: “Andaikata mereka tidak mau mengakui wahai Muhammmad engkau utusanKu Aku yang akan mengakuimu; engkau adalah utusanKu. ‘Engkau sebenar-benar utusan’.
Sampai pula turun: "arrahman alamal Quran, kholaqol insana allamahul bayan", siapa yang dimaksud dalam ayat ini? Yaitu Rasulullah Saw. Dalam surat al ‘Alaq Allah Swt berfirman: "Iqro bismirobbikaladzi kholaq, kholaqo al insana min ‘alaq, iqro warobbuka al akrom" (QS: al ‘Alaq: 1-3), kepada siapa pertama kali ayat ini ditujukan? Pada Rasulullah Saw. Dalam surat al Hujurat ayat 13, Allah Swt. Berfirman:"Inna akromakum indallahi atqoqum", sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling taqwa diantara kalian. Siapa yang dimaksud dengan'al akram wal atqo’ dalam ayat tersebut? Rasulullah Saw. Kalau kita ditanya siapa yang paling mulia? Kita harus menjawab Rasulullah Saw. sebab beliaulah orang yang paling taqwa.
Oleh sebab itu, kalau ingin menjadi orang yang taqwa. Tidak ada cara selain mengikuti (ittiba’) meniru dan mencontoh teladan Sayidina Muhammad Saw., dijamin dia akan termasuk orang yang taqwa.
Dari apa yang telah saya uraikan, kita akan mengakui, mengetahui dan meyakini bahwa Rasulullah Saw. adalah orang yang istimewa, dan seorang manusia yang berbeda dari manusia pada umumnya. Sebab itu pula kalau ada orang mengatakan atau minta disamakan dengan Rasulullah Saw., adalah orang yang menghayal. Sama darimana? Dia tidak mendapat penyaksian dari Allah Swt.
Sementara Rasulullah Saw. disaksikan: akhlak, susunan antominya, susunan fisiknya dan sebagainya. Yang menciptakannya sendiri yang menyaksikan, Allah Swt. Bukankah lebih akurat! Darimana bisa-bisanya kita berani menafsirkan Rasulullah manusia biasa.
Lalu bagaimana dengan ayat; “Qul inama ana basyarum mislukum” (QS: al Kahfi: 110)? Maksud ayat itu bahwa pesan-pesan kerasulan Nabi Muhammad Saw. dapat diterima dengan mudah olah manusia. Karena Rasulullah Saw. sendiri adalah manusia. Itulah maksud ayat al Quran diatas. Memberi kesadaran pada umat bahwa Allah Swt. telah mempermudah manusia (litashil al umat) untuk menerima ketentuanNya melalui utusan dari golongan manusia pula. Dan itu merupakan salah satu dari sekian rahmatNya. Basyar, manusia dalam ayat itu bukan berarti menyamakan Rasulullah dengan kedudukan manusia biasa. Tidak! “Qul inama ana basyarum mislukum”, kami ini sepertis kalian; berbicara, bermata, bertelinga. Manusia, sama-sama manusia, Mistlukum, seperti kalian.
Akan tetapi kata ‘mistlukum’ tidak bisa dikatakan berarti sama sekali sama atau persis sama.
Rasul dari kalangan manusia yaitu untuk memudahkan umat. Sebab Seandainya Rasul dari kalangan Jin, akan menyulitkan manusia, sebab jin tidak terlihat. Kalaupun terlihat manusia pasti lari. Sementara malaikat tidak terkena kewajiban: “Qu anfusakum wa ahlikum nara”(QS: at Tahrim), menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Sebab malaikat tidak punya anak serta tidak punya istri. Lalu siapa yang berperan menjadi utusan atau rasul? Jawabannya adalah manusia. Dan manusia yang menjadi rasul itu
adalah Nabi Muhammad Saw.
Dalam membahas Ahlu Sunah kita jelaskan terlebih dahulu fungsi al Quran sebagai saksi kerasulan dan keistimewaan Nabi Muhammad Saw. Supaya kita tahu sumber-sumbernya dahulu. Sehingga kita dapat mengetahui bahwa Rasulullah Saw. Sebagai sumber utama Ahlu Sunah adalah manusia luar biasa yang karakter, fisik dan perjalanan hidupnya di abadikan dalam al Quran.
Ref:
http://www.habibluthfiyahya.net/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=37&Itemid=30&lang=id&limitstart=10
Keteladanan Dalam Totalitas Sahabat Abu Bakar
Bahkan kelemahan mereka adalah untuk umat. Mohon sampai sini tidak disalah pahami.
Husnudzon terhadap Para Imam sebagai pijakan psikologis Ahlu Sunnah
Jika sudah timbul prasangka-prasangka yang kurang baik, mana mungkin kita bisa menjaga tauhid, menjaga keimanan kita. Padahal ilmu-ilmu kita, kita bisa beriman pada Allah dan RasulNya, kita terima melalui mereka. Ilmu-ilmu beliau seperti lautan tiada bertepian.
Dalam segala ilmu, pan-pan, cabang-cabang, dalam ilmu agama beliau-beliau sangat menguasai. Terutama ilmu hadIts, ilmu Tafsir, ilmu Sanad dalam ilmu Silsilahnya, ilmu Khilaf, ilmu Fiqh, Balaghoh, Mantiq, Bayan Maani-nya. Beliau-beliau itu sangat mumpuni sekali. Sehingga tahu persis ayat dengan ayat yang terkait, hadits dengan hadits yag terkait dan lain sebagainya. Mereka paham dimana harus berijtihad demi kepentingan umat.
Mengambil salah satu ayat yang berdekatan dengan peramasalahan, andaikata didalam suatu permasalahan itu sendiri tidak terdapat dalam keterangan hadits atau ayat yang tegas. Atau mengambil salah satu hadits yang bentuknya mujmal, tidak merupakan tafsil; perincian-perincian didalam permasalahan. Maka itulah, beliau-beliau sangat hati-hati sekali didalam menentukan, atau memutuskan suatu permasalahan.
Menghindarkan dari kepentingan ra’yu atau pendapat akal, dan pendapat nafsu seperti pendapat manusia pada umumnya. Beliau lebih jauh berpikir: bagaimana cara menghindarkan hal-hal tersebut. Maka kearifan, kealimannya dan lain sebagainya, dan ahwaliyahnya-akwaliyahnya tidak diragukan lagi. Allah Taala telah memberikan satu bukti-bukti yang cukup kuat untuk kita semua. Sepeti karangan-karangan beliau sampai sekarang.
Satu contoh saja, Safinah al Naja, Sulam al Munajat, Sulam taufiq, Bajuri dan lain-lainnya. Semua atau seluruh kalangan pondok pesantren sampai Mesir-pun mengakui: tidak pernah meninggalkan kitab-kitab yang pernah dikarang oleh beliau-beliau.
Contoh yang kami tuliskan tadi, apa yang diterapkan dalam akidah-akidah kalangan ahli tasawuf. Terutama yang di pegang; ijtihadnya Imamuna al Ghazali dalam menerangkan dunia tasawuf. Lain daripada Imam Gazali masih banyak lagi tokoh-tokoh lainnya. Tapi paling ringan diantara kalangan ahli tasawuf adalah kitabnya Imam Ghazali. Beliau mempunyai suatu prinsip; bagaimana membuat dasar-dasar untuk kalangan ahli tasawuf.
Maka kalau sudah terjadi prasangka terhadap beliau-beliau: prasangka buruk atau mengukur tentang kealamahan beliau. Justru kita tidak akan berhasil apa-apa, malah kita sendiri yang akan rugi. Karena apa? Beliau-beliau sudah jauh langkahnya sedangkan kita baru hitungan satu langkah dua langkah, mengukur orang yang langkahnya sudah ribuan kilo meter.
Referensi:
http://www.habibluthfiyahya.net/index.php?option=com_content&view=article&id=91%3Ahusnudzon-terhadap-para-imam-sebagai-pijakan-psikologis-ahlu-sunnah&catid=37%3Aartikel&Itemid=30&lang=id
Peran Thoriqoh Dalam Membersihkan Hati
Mudghoh atau hati letaknya di dalam tubuh manusia. Tubuh manusia membutuhkan perhatian yang serius. Perlu kita ketahui bahwa penyakit-penyakit manusia bersumberkan dari hati . baik dan tidaknya metabolism tubuh seseorang tergantung pada baik dan tidaknya darah darah orang tersebut. Dan darah itu akan menjadi baik dan tidak tergantung dua hal:
Pertama; apa yang dimakan dan yang dan bagaimana cara memperoleh makanan itu. Apa yang dimakan adalah harus sehat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daging-dagingan yang memperkuat stamina. Kemudian darimana yang kita makan atau bagaimana cara mendapatkan makanan itu. Yang jelas makanannya harus halal, halal disini sudak mencakup pengertian makanan itu diperoleh dengan cara yang benar.
Secara fisik saja sangat memerlukan kesehatan dan kebersihan. Hati adalah bagian tubuh manusia yang sangat berperan dalam memberikan atau dalam mensuport pola fikir, wawasan dan pandangan manusia, karena hati adalah tempatnya iman dan tempatnya nafsu. Lalu apa yang terjadi jika kita tidak mempunyai alat untuk membersihkannya.
Kita harus memberikan makanan hati serta pembersihnya seperti ilmu ma’rifat dan lain sebagainya, yang terkait dengan keimanan serta pertumbuhannya. Paling tidak kita bisa memilih mana yang di dorong oleh imannya dan mana yang didorong oleh nafsunya.
Seperti masalah pencernaah diatas bukan sesuatu hal yang mustahil bilamana kita mendiamkan kotoran-kotoran hati maka akan mempengaruhi pola fikir yang pada dasarnya akan merugikan diri sendiri. (tobe continu [Tsi])
Ref:
http://www.habibluthfiyahya.net/index.php?option=com_content&view=article&id=168%3Aperan-thoriqoh-di-dalam-membersihkan-hati-&catid=34%3Aberita&Itemid=18&lang=id