Bershalawat; Menciptakan Kelapangan di Dalam Dada

Bershalawat dapat menghilangkan keresahan dan kesuntukan. Jika kitasedang suntuk, pengap, tidak ada gairah hidup, maka banyak-banyaklahbershalawat kepada Rasulullah Saw. Bershalawat kepada Rasulullahartinya meminta agar perhatian Rasulullah kepada kita.Allah berfirman:Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (Q.S. Al-Ahzaab: 56)
Ayat ini turun bukan hanya untuk sahabat Nabi, namun ayat ini turun
sampai dengan manusia di akhir zaman. Ini artinya bahwa ayat ini
memerintahkan kita juga untuk bershalawat kepada Rasulullah, sekalipun
Rasulullah sudah meninggal 14 abad yang lampau.
Ubay bin Ka’ab bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, berapa banyak saya harus mengucapkan shalawat untukmu?”
Rasulullah menjawab, “Sesukamu.”
Lalu Ubay bertanya lagi, “Apakah seperempat atau dua pertiga?”
Rasulullah menjawab, “Sekehendakmu. Dan jika engkau tambahkan, maka itu lebih baik.”
Jadi, makin banyak kita bershalawat kepada Nabi, maka akan semakin bagus. Ini adalah jaminan dari Rasulullah Saw.
Lalu Ubay kemudian bertanya lagi, “Apakah shalawatku untukmu seluruhnya?”
Rasulullah menjawab, “Karena itu, dosamu akan diampuni, dan kesedihanmu akan dihilangkan.”
Berarti Rasulullah proaktif memintakan untuk orang yang suka
bershalawat terhadapnya agar Allah mengampuni dosa orang tersebut. Hal
ini sesuai dengan firman Allah:
Dan kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita`ati
dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya
dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun
memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha
Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Q.S. An-Nisaa: 64)
Rasulullah bersabda:
Jadi, jika kita rajin bershalawat kepada Rasulullah Saw, maka dosa
kita akan diampuni, dan kesedihan akan dihilangkan. (H.R. Tirmidzi).
Jangan pernah merasa rugi bershalawat terhadap Rasulullah. Dua dalil
menguatkan mengenai hal ini. Dengan bershalawat, maka rasa sedih dan
duka bisa hilang. Jadi, jika kita malas bershalawat, maka akan ada dua
poin yang akan kita rasakan:
1) Barangsiapa yang membaca shalawat untukku sekali, maka Allah akan
membalas dengan sepuluh shalawat baginya. Jika seseorang tidak
bershalawat sekalipun, maka itu artinya dia tidak akan mendapat
shalawat dari Allah.
2) Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku, kata Rasulullah, pada
malam Jum’at dan hari Jum’at. Sebab shalawat kalian diperlihatkan
kepadaku.
Ini semakin memperkuat kita, bahwa meskipun Rasulullah sudah tiada
dan meninggal, dia tetap secara rohani menyaksikan siapa di antara
umatnya yang paling rajin mengingatnya, mencintainya, dan membacakan
shalawat terhadapnya.
Ibnu Taimiyah berkata: “Shalawat yang paling sempurna adalah shalawat Ibrahimiyah,” yaitu yang sering kita baca ketika tahiyat:
Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammad. Kama
shallaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aali Ibrahim. Wa baarik ‘ala Muhammadin
wa ‘ala aali Muhammad. Kama baarakta ‘ala Ibrahim, wa ‘ala aali
Ibrahim. Fil ‘alamina innaka hamiidun majid.
Inilah shalawat yang paling kuat, yang paling afdhal, menurut Ibnu Taimiyah. Karena itulah, Rasulullah mencontohkan bacaan ini.
Shalawat terhadap Nabi akan memberikan dampak langsung kepada diri
kita sendiri. Akan memberikan dampak pencerahan terhadap batin kita.
Karena itu, pembacaan shalawat Nabi dengan cara penghayatan bagaimana
nikmatnya shalawat itu, maka itu akan membekas di dalam batin kita.
Perasaan jadi tenang, rindu kita kepada Rasulullah Saw. Dan untuk itu,
marilah kita bershalawat terhadap Rasulullah, kita lantunkan dengan
suara dalam kita sendiri.
Ya abbazzahra…
Melantunkan bait-bait ini adalah sama dengan shalawat Nabi. Bahkan
suara batin kita sendiri yang kita suarakan terhadapnya, itu akan
langsung menyentuh diri kita sendiri, dan insya Allah Rasulullah Saw
akan memberikan syafa’at nantinya ketika di akhirat.
Marilah dengan penuh senang hati dan penuh rasa cinta kepada junjungan
kita Rasulullah Saw, kita memberikan shalawat terhadapnya. Semoga
shalawat yang telah kita bacakan akan mendpatkan manfaat bagi diri kita
sendiri, tentunya juga dengan mengenang Rasulullah Saw.
Di dalam kitab-kitab kuning banyak sekali menganjurkan untuk kita membaca shalawat nabi. Bahkan Rasulullah Saw bersabda:
“Alangkah kikirnya umatku manakala namaku disebutkan, tapi tidak mengingat aku, tidak bershalawat terhadapku.”
Di dalam Kitab Irsyadul ‘ibad dikisahkan, bahwa ada seorang ibu yang
wirid rutinnya itu dia tidak baca wirid-wirid lain karena tidak hapal,
namun yang paling simpel yang ia baca adalah shalawat nabi. Mungkin ia
juga tidak pintar membaca Al-Qur’an sehingga jarang mengaji. Tapi yang
selalu ia ulang-ulangi kalimat yang ia hafal adalah shalawat nabi.
Ketika ibu itu setiap kali mencuci pakaian di pinggir sumur, setiap
kali sikat pakaiannya bergetar, setiap itu pula ia bershalawat nabi.
Jadi gerakan tangannya diikuti dengan shalawat nabi. Ketika timbanya
naik juga diikuti dengan shalawat nabi. Tiba-tiba anaknya terperosok
masuk ke dalam sumur tersebut, kemudian ia refleks mengucapkan,
“Allahumma shalli ‘ala Muhammad”. Ia membutuhkan waktu memanggil orang,
dan akhirnya anak itu diangkat ke atas. Masya Allah, ternyata anak itu
tidak tenggelam, bahkan rambutnyapun tidak basah.
Banyak keajaiban-keajaiban yang sering dialami oleh orang-orang yang
banyak zikirnya, termasuk menzikirkan membaca shalawat nabi.
Rasulullah sendiri mengatakan kepada kita, “Kalau kalian sering
bershalawat terhadapku, maka dosanya akan diampuni dan dadanya akan
dilapangkan.”
Banyak jenis shalawat, mana yang paling afdhal?
Menurut Ibnu Taimiyah, shalawat yang paling sempurna adalah shalawat
Ibrahimiyah. Ini pendek, semua kita pasti hapal karena sudah pasti kita
membacanya setiap shalat. Kalau kita shalat mayyit, Shalawat
Ibrahimiyah ini saja dibaca, kalau kita tidak bisa menghapal shalawat
yang lebih panjang, karena bertingkat-tingkatnya shalawat nabi
tersebut.
Kalau kita mendapatkan kegelisahan dan kegersangan hati, bacalah
Shalwat Nabi. Di dalam sebuah kitab disebutkan, bahwa kalau suatu waktu
kita melupakan sesuatu, maka kita dianjurkan membaca Shalawat Nabi.
Shalawat Nabi juga bagus dibaca ketika telinga kita mendengung.
Diriwayatkan, bahwa kalau telinga kita mendengung, entah kanan atau
kiri, maka bacalah Shalawat Nabi.
Kemudian, zakarallahu bikhairin wa zakarani.
Ada juga yang senantiasa mewiridkan Shalawat Nabi ketika kakinya
sedang kesemutan. Bahkan ada yang mengatakan, sekalipun kita di kamar
mandi, kalau ketika itu kita mendengarkan nama Nabi Muhammad
disebutkan, kita juga boleh bershalawat di kamar mandi atau kakus
tersebut.
Lafadz-lafadz shalawat itu betapa banyak memberikan manfaat untuk
ketenangan jiwa dan kelapangan dada, bahkan juga berfungsi sebagai
pengampunan dosa dan menghibur Rasulullah Saw. Lafadz-lafadz lain yang
perlu kita perhatikan juga adalah lafadz: “Hasbunallah wa ni’mal wakil,
ni’mal maula wa ni’mal nashir, wa la haula wala quwwata illa billahi
hal ‘aliyyul ‘azim.” Jadi, di dalam Wirid As-Syifa kita ditutup dengan
lafadz ini.
Di dalam Kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali disebutkan, bahwa
kata-kata ini: “Hasbunallah wa ni’mal wakil …” diucapkan oleh Nabi
Ibrahim ketika ia dilemparkan ke dalam api, sehingga api itu tiba-tiba
menjadi dingin dan tidak mematikan Nabi Ibrahim.
Juga lafadz tersebut diucapkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam Perang
Uhud, lalu Allah menolongnya. Kita tahu, bahwa pada Perang Uhud itu
Kaum Muslimin mengalami kekalahan, terdesak, terjebak, dipukul mundur,
dikepung, namun kemudian ada keajaiban yang menyelamatkan pasukan Kaum
Muslimin ketika itu, walaupun harus melangkah mundur. Beliau
(Rasulullah) mengucapkan lafadz tersebut (hasbunallah wa ni’mal
wakil…).
Dalam riwayat juga disebutkan, lafadz ini (hasbunallah wa ni’mal
wakil…) juga diucapkan oleh Nabi Musa ketika ia melihat lautan
terbentang di depan matanya, sedangkan musuh mengejar di belakangnya.
Maka dengan izin Allah, ia kemudian menjadi selamat.
Dalam kondisi ketika kita terdesak oleh suatu problema yang sangat
besar, maka kita tidak boleh kosong, kita tidak boleh tidak ada upaya,
dan ingatlah bahwa lafadz-lafadz tersebut penting untuk diucapkan.
Seperti difirmankan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, bahwa ketika Nabi
Adam sedang terdesak, diajarkan: “Wa ‘allama adama al-asma-a kullaha.”
Allah mengajari Nabi Adam ketika ia sedang terdesak dengan sebuah
kalimat (al-asma).
Di dalam kitab-kitab tafsir disebutkan, bahwa al-asma tersebut
adalah Shalawat Nabi. Jadi, Nabi Muhammad belum lahir, namun sudah ada
perintah kepada Nabi Adam untuk membaca Shalawat kepada Nabi Muhammad
Saw. Kalau kita lihat di dalam buku-buku tasawuf, mengapa Nabi Adam
bershalawat kepada Nabi Muhammad, sedangkan Nabi Muhammad ketika itu
belum hadir (belum dilahirkan) ke dunia ini. Nabi Adam itu adalah “Abul
basyaril ula” (Bapak biologis pertama). Sedangkan Nabi Muhammad adalah
“Aburruuhil ula” (Bapak roh manusia pertama). Karena itu sering
diistilahkan, bahwa Nabi Muhammad itu sesungguhnya adalah Nabi Pertama
sekaligus Nabi Terakhir. Secara biologis Nabi Muhammad adalah Nabi
Terakhir, tapi secara rohani ia adalah Nabi Pertama. Nabi Adam secara
biologis adalah Nabi Pertama, tapi bukan secara rohani. Wallahu a’lam.
Karena itu, para nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad sudah tahu bahwa
Nabi Muhammad Saw akan hadir. Inilah kemuliaannya Nabi Muhammad Saw.
Jadi, kalimat-kalimat penting tersebut di atas penting juga untuk
kita ingat ketika kita dalam keadaan terdesak. Jangan sampai kita
memanggil Bapak kita, memanggil suami, atau siapa saja makhluk Allah,
tapi panggillah Allah ketika kita terdesak itu. Bagaimana memanggil
Allah tersebut? “Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’mal
nashir wa la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azim”
“Ketika hamba menyadari bahwa semua ini adalah perlindungan rabbani,
tentunya ia juga akan menyadari bahwa di sana ada Tuhan Yang Maha
Kuasa, Maha Penolong, Maha Pelindung, dan Maha Pengasih.”
Ketika kita membutuhkan pertolongan kepada Tuhan, seandainyapun kita
terlempar, tercebur ke tengah samudera tanpa penolong, pada saat itu
juga harus kita mengingat Allah, tidak boleh putus asa. Dalam kondisi
seperti apapun kita tidak boleh putus harapan, putus asa terhadap
Allah. Sekalipun kita diceburkan ke tengah samudera tanpa penolong
siapapun juga, tetap kita tidak boleh putus asa. Kita pasrahkan total
diri kita kepada Allah.
Allah berfirman:
Wallahu khairun hafidzan, wa huwa arhamarrahimin
“Maka Allah adalah sebaik-baik penjaga, dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.”
Ada yang hafidz, tapi tidak rahman dan rahim. Sedangkan Allah adalah
Al-Hafidz (Pemelihara) yang sekaligus Al-Rahman (Pengasih) dan Al-Rahim
(Penyayang). Banyak sekali orang yang memperhatikan, banyak juga orang
yang memelihara, serta banyak juga orang yang bertanggungjawab, tapi
tidak memiliki kasih dan sayang. Beda halnya dengan Allah, menjadi
pemelihara dan juga menjadi pengasih dan penyayang terhadap yang
dipelihara-Nya. Karena itu, kalau kita sudah serahkan diri kita kepada
Allah Swt dalam kalimat, “Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa
ni’mal nashir wa la haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azim”,
mau kemana lagi kita. Kalau Allah menghendaki, laut itu tidak mau
menenggelamkan sahabat Tuhan. Laut memang mematikan, tapi ada contoh
kalau laut itu takut juga terhadap Tuhan. Kalau laut yang mematikan,
maka matilah Nabi Musa. Mengapa Nabi Musa tidak tenggelam di lautan?
Berjalan di atas air, tidak tega air itu membunuh sahabat-Nya. Tidak
tega ikan itu menelan dan memusnahkan sahabat-Nya yang bernama Nabi
Yunus. Tidak tega api itu membakar sahabat-Nya Nabi Ibrahim. Tidak tega
kuman (virus) itu mematikan Nabi Ayyub. []
Disarikan dari Pengajian Tasawwuf yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. pada tanggal 20 Juni 2007 di Masjid Agung Sunda Kelapa-Jakarta. Transkriptor: Hanafi Mohan.

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Share